STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA: MENINGKATKAN MOTIVASI MEMBACA

Oleh Witri Annisa

Bahasa diera globalisasi dapat menunjang kemajuan teknologi. Hal tersebut dapat dilihat dijadikannya bahasa sebagai media penyampaian teknologi. Penyampaian teknologi tersebut dapat dalam bentuk lisan maupun tulisan. Teknologi juga tidak terlepas dari dunia pendidikan, khusus pendidikan bahasa. Kemajuan teknologi dapat menunjang kemajuan pendidikan. Dengan demikian, teknologi dan pendidikan pada dasarnya selalu seiring sejalan dalam pelaksanaanya.

Pendidikan bahasa diwujudkan dalam pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa yang memanfaatkan kecanggihan teknologi akan semakin efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa dapat dalam bentuk penggunaan media pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, pengolahan hasil belajar, dan lain-lain.

Salah satu pembelajaran bahasa, yaitu membaca berkaitan dengan teknologi. Seiring kemajuan teknologi, bahan bacaan semakin banyak. Dengan demikian, wawasan semakin bertambah. Media penyampaianya pun beragam dapat melalui lisan maupun tulisan. Media penyampaian wawasan tersebut dapat melalui buku, koran, majalah, artikel, blog, e-book, jurnal, radio, televisi, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, media yang cukup efektif, seperti media tulisan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.

Pemanfaatan media belum maksimal terlihat rendahnya minat baca, seperti sedikitnya pengunjung perpustakaan. Membaca juga belum menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian menurut IEA dan Asia’s Weeks (dalam Iskandarwassid dan Sunendar, 2009:246) kemampuan membaca masyarakat Indonesia, Venezuela, dan Trinidad-Tobago berada pada urutan terakhir dari 27 negara yang diteliti.

Membaca merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan wawasan dan pengalaman kognisi. Kegiatan membaca juga melibatkan semua proses mental, seperti ingatan, pemikiran, imajinasi penerapan, pemecahan masalah (Iskandarwassid dan Sunendar, 2009: 246). Dengan demikian, kegiatan membaca bukanlah hal yang mudah.

Dalam pembelajaran bahasa, kegiatan membaca berkaitan dengan kemapuan membaca siswa. Kemampuan membaca siswa akan baik bila didukung dengan motivasi yang baik juga. Namun, permasalahannya adalah motivasi yang berkaitan minat itulah yang masih rendah. Umumya, siswa tidak terlalu menyenangi bahan bacaan yang berbentuk tulisan, tetapi lebih suka gambar dan suara seperti menonton televisi. Membaca dilakukan terbatas pada buku-buku pelajaran pokok yang digunakan sekolah. Itu pun dilakukan karena terpaksa, yaitu adanya tugas sekolah dan adanya ulangan. Padahal ilmu pengetahuan tidak hanya ada dibuku pelajaran saja, tetapi juga ada media lain. Ketekunan membaca hanya dimiliki beberapa siswa saja di sekolah.

Pengembangan minat baca ini perlu ditingkatkan secara berkesinambungan agar terbentuk masyarakat yang berbudaya membaca. Khususnya di negara ini, cara yang efektif populer untuk memperoleh informasi adalah melalui bacaan. Oleh karena itu sejak dini masyarakat perlu dimotivasi agar senang dan biasa membaca.

Membaca merupakan kegiatan yang kompleks. Menurut Mulyati (2003) Kegiatan membaca pada dasarnya melibatkan kemampuan motoris mata dan kemampuan kognisi. Kemampuan motoris berkaitan dengan kemampuan gerak mata melihat lambang-lambang yang selanjutnya akan melahirkan rata-rata kecepatan baca. Kemampuan kognisi akan melibatkan proses kognitif yang melibatkan daya ingat, daya pikir, dan daya nalar. Kesemua proses kognitif ini akan dimanfaatkan pada saat proses memetik dan memahami lambang-lambang tertulis secara tepat dan kritis

Membaca bukan sekadar kemampuan mengenal huruf-huruf yang membangun kalimat atau sekedar melafalkannya dengan baik tetapi lebih luas dari itu dan menuntut aktivitas mental yang terarah serta sanggup menangkap dan memahami gagasan yang tersirat dibalik gambar tertulis. Harjasujana (1988:1.1) menambahkan membaca merupakan sintesis berbagai proses yang berakumulasi pada suatu kegiatan tertentu. Oleh karena itu, membaca harus dipandang sebagai pengalaman yang aktif bukan pengalaman yang pasif.

Berdasarkan pendapat para ahli tesebut, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau lambang tulis. Proses tersebut merupakan aktivitas yang rumit dan komplek dengan tujuan memperoleh informasi serta pemahaman terhadap suatu bacaan. Selain itu, kegiatan membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan pengalaman yang membuat pembaca lebih aktif dalam memahami bacaan.     

Tujuan membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencangkup isi, memahami makna bacaan. Menurut Tarigan (1985:10) ada tujuh tujuan membaca diantaranya untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta, memperoleh ide-ide utama, mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita, menyimpulkan, mengelompokan dan mengklasifikasikan, menilai dan mengevaluasi, memperbandingkan atau mempertentangkan. Selanjutnya, menurut Ermanto (2008:76) ada tiga  tujuan membaca yaitu untuk mencari informasi umum dan pokok saja, untuk mencari informasi tertentu yang sudah ditetapkan, untuk menguasai informasi secara menyeluruh. Selain itu, Iskandarwassid dan Sunendar (2009:289) menambahkan tujuan membaca didasarkan pada tingkat kemmapuannya dapat dibagi menjadi tingkat pemula, tingkat menengah, dan tingkat mahir/lanjut.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama membaca adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan atau mencari informasi yang diperlukan dari suatu bacaan. Dengan mengetahui tujuan membaca tersebut pembaca dapat memahami manfaat dari membaca tersebut. Oleh karena itu, pembaca sebelum membaca perlu merumuskan tujuan membaca suatu bacaan terlebih dahulu.

Menurut Tarigan (1985:13) membaca dibagi atas dua jenis yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca nyaring adalah suatu kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid ataupun pembaca secara bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap atau memahami informasi pikiran seorang pengarang. Membaca dalam hati adalah membaca sendiri tanpa bersuara dengan mengaktifkan mata dan ingatan.

Membaca dalam hati dibagi atas dua jenis membaca intensif dan membaca ekstensif. Membaca ekstensif terdiri atas membaca survei, membaca sekilas, dan membaca dangkal. Membaca survei yaitu membaca dengan meneliti terlebih dahulu bahan yang dibutuhkan. Membaca sekilas yaitu membaca yang membuat mata bergerak cepat untuk mendapat informasi. Membaca dangkal yaitu membaca yang hanya untuk mendapatkan informasi luar saja.

Membaca intensif terdiri atas membaca telaah isi dan membaca telaah. Membaca telaah isi terdiri atas membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide-ide. Membaca teliti adalah membaca dengan cermat dalam mencari suatu informasi. Membaca pemahaman adalah membaca untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dari bacaan yang dibaca. Membaca kritis adalah membaca evaluatif dan analisis. Membaca ide-ide adalah kegiatan membaca untuk mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide bacaan. Membaca telaah bahasa terdiri atas membaca bahasa asing dan membaca sastra. Membaca bahasa yaitu membaca yang bertujuan untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata. Membaca sastra yaitu membaca dengan melihat keindahan suatu karya sastra (Tarigan, 1985:138).

Agustina (2000:10) mengemukakan jenis-jenis membaca dapat dibagi berdasarkan tingkatannya, kecepatan dan tujuannya. Berdasarkan tingkatannya menurut Gani dan Semi (dalam Agustina, 2000:10) membaca dapat terdiri atas membaca permulaan, membaca lanjutan, membaca untuk orang dewasa. Sedangkan berdasarkan kecepatanya dan tujuannya membaca terdiri atas membaca kilat (skimming), membaca cepat (speed reading), membaca studi (careful reading), dan membaca reflektif (reflactive reading).

Berdasarkan pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis membaca dapat dibagi atas empat jenis. Pertama, jenis membaca berdasarkan cara membaca yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Kedua, jenis membaca berdasarkan tujuan membaca. Ketiga, jenis membaca berdasarkan kecepatan.

Strategi Pembelajaran Membaca

Kegiatan membaca dalam pembelajaran membaca merupakan suatu keterampilan yang sangat unik dan berperan penting dalam pengembangan pengetahuan.  Hal tersebut terjadi karena sebagian besar pengetahuan diperoleh dari membaca. Kegiatan membaca bukan hanya sekedar melihat teks, tetapi merupakan proses menangkap atau memperoleh, menginterpretasi, mengevaluasi, dan merefleksikan atau bertindak seperti yang dimaksud dalam konsep itu. Kemampuan membaca tidak hanya mengoperasikan berbagai keterampilan untuk memahami kata-kata dan kalimat tetapi juga kemampuan untuk menginterpretasi, mengevaluasi sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif.

Strategi pembelajaran membaca berkembang cukup pesat. Metode dan teknik pembelajaran juga beragam. Salah satunya dengan melatih untuk mengkomunikasikan apa yang sudah siswa ketahui dengan isi yang sedang ditelusuri melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, kegiatan membaca dapat diawali dengan pertanyaan bimbingan yakni pertanyaan awal untuk mengarahkan pikiran dan pandangan siswa.

Cara membaca ditentukan oleh tujuan membaca dan jenis bacaan yang akan dibaca. Salah satu jenis membaca yaitu membaca cepat bertujuan menangkap garis-garis besar atau hal-hal yang tampak di permukaan sehingga waktu yang diberikan perlu dibatasi. Membaca tersebut, juga berhubungan dengan tingkat pemahaman siswa terhadap suatu bacaan. Menurut Purwo (dalam Marsel, 2008) untuk mengukur pemahaman siswa dapat dilakukan dengan menyuruh siswa menjawab pertanyaan, membuat pertanyaan, merangkum atau mengungkapkan kembali isi bacaan.

Strategi Meningkatkan Motivasi Membaca

Strategi pembelajaran membaca juga perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran membaca berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Seperti yang diungkapkan Iskandarwassid dan Sunendar (2009:289), pada tingkat pemula tujuan membaca siswa adalah mengenal lambang-lambang, mengenali kata dan kalimat, menemukan ide pokok dan kata-kata kunci, menceritakan kembali isi bacaan. Pada tingkat menengah tujuan membaca siswa adalah menemukan ide pokok penunjang, menafsirkan isi bacaan, membuat intisari bacaan, menceritakan kembali berbagai jenis isi bacaan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi). Pada tingkat mahir tujuan membaca siswa adalah hampir sama dengan tingakat menengah tetapi pada tingkat ini siswa lebih dituntun lebih spesifik dan sistematis menguraikan isi bacaan tersebut.

Teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa berdasarkan tingkatan kemampuan tersebut adalah dengan selususr kata, teka-teki silang, action game, manajemen kelas, permainan alfabet, permainan lomba kue, permainan monopoli, skiming, scanning, rumpang sederhana untuk tingkat pemula. Pada tingkat menengah dapat diterapkan teknik teka-teki, rumpang, parafrase, melanjutkan wacana, mengurai benang kusut. Sedangkan pada tingkat mahir, teknik yang dapat dilakukan adalah antisipasi/prediksi, skimming, scanning, rumpang, parafrase, melanjutkan wacana, mengurai benang kusust (Iskandarwassid dan Sunendar, 2009:290-291).

Peningkatan kemampuan membaca siswa dapat dilaksanakan berdasarkan strategi di atas. Namun, faktor penting yang perlu diperhatikan dalam peningkatan tersebut adalah motivasi. Dengan  adanya motivasi untuk membaca maka seiring dengan itu minat membaca semakin tinggi dan berujung pada peningkatan kemampuan membaca. Dengan demikian, tidak dapat disangsikan lagi bahwa penanaman kebiasaan membaca harus dimulai pada usia dini.

Salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan minat baca siswa adalah peran guru. Guru perlu memotivasi siswa untuk mencintai buku sejak awal. Oleh karena itu, upaya pengembangan/ peningkatan minat dan kebiasaan membaca dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa.

Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca antara lain sebagai berikut.

1.         Penyelanggaraan jam-jam cerita di perpustakaan sekolah;

2.         Pemberian tugas membaca;

3.         Pemberian tugas membuat resensi;

4.         Penyelenggaraan majalah dinding;

5.         Penyelenggaraan lomba membaca;

6.         Penyelenggaraan lomba membuat kliping;

7.         Pemotivasian penerbitan majalah atau buletin sekolah;

8.         Penyelenggaraan pameran buku yang dikaitkan dengan hari besar nasionala atau keagamaan;

9.         Penugasan siswa membantu pustakawan sekolah;

10.      Memberikan bimbingan teknik membaca.

 (Mutu Volume I no. 4 Edisi ]anuari Maret 1993)

Strategi untuk meningkatkan motivasi membaca dalam pembelajaran bahasa, khususnya membaca dapat dilakukan dengan beberapa langkah diantaranya sebagai berikut.

  1. Tingkatkan minat baca siswa terlebih dahulu untuk mau membaca. Caranya dapat dilakukan dengan salah satu kegiatan yang telah diuraikan di atas;
  2. Memberikan pemahaman pentingnya membaca dan manfaat yang akan diperoleh;
  3. Memberikan pemahaman tentang hubungan kegiatan membaca dan tujuan membaca;
  4. Memperkenalkan beberapa jenis bacaan benar-benar bermanfaat bagi siswa. Jenis bacaan ini dapat bersumber dari berbagai media dan berbentuk apa saja, baik deskripsi, eksposisi, persuasi, argumentasi, dan narasi;
  5. Menayakan kepada siswa mana jenis bacaan yang paling diminati;
  6. Bila siswa sudah menentukan jenis bacaan yang paling diminati, tugasi mereka dengan membaca keseluruhan bacaan dan memberikan laporan bacaan tersebut;
  7. Laporan yang telah mereka buat apresiasi dengan menyuruhnya membaca di depan kelas untuk didiskusikan dengan teman yang lain.
  8. Teman yang lain memberikan tanggapan tehadap hasil laporan sehingga walaupun siswa tersebut belum membaca bacaan itu, tetapi mereka telah mengetahui isinya. Di sini terlihat pembelajaran berbagi pengalaman, khususnya pengalaman membaca.

Dengan adanya kegiatan tersebut, siswa diberikan pengalaman membaca dan merasakan manfaat dari diskusi yang dilakukan yaitu bertambahnya pengetahuan mereka dalam berbagai bidang. Usahan kegiatan diskusi berlangsung secara santai dan tidak membuat siswa tegang dan yang bertugas untuk itu adalah guru. Guru menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan memberikan kata-kata motivasi yang berhubungan dengan membaca

Simpulan

Dunia pendidikan tidak lepas dari kemajuan teknologi. Dalam bidang pembelajaran kemajuan teknolgi sangat bermanfaat, khususnya pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa melatih siswa untuk dapat menguasi empat aspek kemampuan berbahasa. Salah satunya adalah kemampuan membaca. Teknologi sebagai sarana untuk penyampaian berbagai jenis bacaan.

Fenomena yang terjadi adalah kemampuan membaca siswa Indonesia masih tergolong rendah. Banyak factor yang menyebabkannya, diataranya rendahnya minat baca siswa. Minat baca siswa berkaitan dengan motivasi. Tidak adanya motivasi kepada siswa untuk membaca membuat minat membaca rendah. Dengan demikian perlu dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan motivasi tersebut. Langkah tersebut dapat diwujudkan dengan strategi meningkatkan motivasi membaca dengan memberikan pengalaman membaca pada siswa.

Daftar Pustaka

Agustina. 2000. Pembelajaran Membaca (Teori dan latihan). Padang: FBSS IKIP Padang.

Depdikbud. Mutu Volume 1 no. 4 edisi JanuariMaret 1993.

Ermanto. 2008. Keterampilan Membaca Cerdas: Cara Melejitkan Kecepatan dan Kemampuan Membaca. Padang: UNP Press.

Harjasujana A. S. 1988. Materi Pokok Membaca. Jakarta: Karunika, Universitas Terbuka.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyati, Yeti. 2003. Kecepatan Efektif Membaca:Apa dan Bagaimana? Makalah. Disajikan dalam Diklat Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra Bagi Guru-guru SLTP Se-Indonesia, Tanggal 1 s.d. 14 Oktober 2003 di PPPG Bahasa Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan Dasar Dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Bahasa.

Marsel. 2008. Peningatan Kecepatan Membaca dengan Pelatihan Bertahap Bab II. Makalah. Dalam Marsel103’s Weblog. Diakses tanggal 24 Desember 2008.

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Membaca Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.

Tentang vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 07/07/2011, in Pendidikan Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: