POLA SINTAKSIS DAN POLA SEMANTIS DALAM WACANA

Karya : Vismaia S. Damaianti

Peran Wacana dalam Menumbuhkan Minat Baca

Pengkajian ini diilhami dan dipicu oleh berbagai isu yang bernadakan keresahan tentang permasalahan “minat baca” yang diajukan oleh para ahli dan pakar bahasa Indonesia. J.S. Badudu (Pikiran rakyat, Nov. 1991) berbicara secara panjang lebar tentang pentingnya mencari upaya-upaya untuk menarik minat baca masyarakat, terutama pelajar. Dijelaskannya bahwa kegemaran membaca itu harus ditumbuhkan sejak kanak-kanak. Kesukaan dan keinginan untuk membaca itu, menurut pemikirannya haruslah ditumbuhkan, sebab kebiasaan membaca itu tidaklah timbul begitu saja. Upaya menumbuhkan minat baca itu terutama merupakan tugas guru dan orang tua. Mereka harus menjadi teladan bagi anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan jasmani dan rohani.

Yus Rusyana (1984) mengungkapkan keprihatinannya tentang minat baca masyarakat yang masih sangat kurang, terutama minat terhadap karya sastra. Berdasarkan peneli­tiannya, jumlah siswa SMA di Jawa Barat yang pernah membaca karya sastra hanya 60%. Dari jumlah itu sebagian besar merupakan pembaca novel pop, sedangkan yang diharapkannya ialah peningkatan minat baca terhadap karangan sastra dan karangan ilmu pengetahuan. Read the rest of this entry

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI HAL YANG HARUS DIUTAMAKAN DILINGKUNGAN SEKOLAH

Karya : Wa Ode Nur Iman

A.    Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, dan agama yang memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pembangunan. Dalam rangka memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermantabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan tersebut di atas akan tercapai dengan sendirinya apabila kita melaksanakan pendidikan itu sendiri. Read the rest of this entry

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBUATAN FILM INDIE SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INTREGATIF

Karya : Himmah Mufidah

Ki Hajar Dewantara pernah menguraikan konsep pendidikan watak melalui “ tri nga”, yaitu ngerti, ngrasa, dan ngelakoni, dalam bahasa lain disebut kognitif, afektif, dan psikomotor. Ngerti akan membawa kesadaran seseorang dalam memahami nilai, mengambil keputusan, dan melakukan hal-hal yang rasional. Ngrasa membawa individu untuk memiliki kesadaran untuk berbuat baik dan buruk, memiliki kontrol diri, dan menghargai orang lain. Adapun Ngelakoni  merupakan bentuk dari kemampuan seseorang untuk mengaplikasikan pikiran dan perasaan melalui tindakan nyata.

Guru berperan sebagai pengajar dan pendidik mempunyai peran dan fungsi starategis dalam menanamkan pengetahuan dan akhlak/budi pekerti bagi para siswa. Di satu sisi siswa harapankan nantinya menjadi manusia berilmu (pandai, cerdas), namun di sisi lain siswa juga diharapkan nantinya menjadi manusia berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia (akhlakul karimah). Karena manusia yang hanya cerdas saja tetapi tidak berakhlak dikuawatirkan setelah dewasa akan menjadi penjahat rakyat, koruptor, markus, dan sebagainya. Read the rest of this entry

PEMBELAJARAN SASTRA SEBAGAI MEDIA PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA

Karya : Dadang Supriatna

Pendidikan karakter akhir-akhir ini sering menjadi pembahasan berbagai kalangan, terutama kalangan pendidikan. Berdasaran  fakta yang ada  bahwa siswa sebagai produk pendidikan masih belum tertanam secara kuat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan, serta kepribadiannya masih lemah sehingga dengan mudahnya dapat terpengaruh oleh hal-hal dari luar. Selain itu, semangat untuk belajar, berdisiplin, beretika, bekerja keras, dan sebagainya kian menurun. Peserta didik banyak yang tidak siap untuk menghadapi kehidupan sehingga dengan mudah meniru budaya luar yang negatif, terlibat di dalam amuk massa, melakukan kekerasan di sekolah atau kampus, dan sebagainya. Meningkatnya kemiskinan, menjamurnya budaya korupsi, munculnya plagiarisme, menguatnya politik uang, dan sebagainya merupakan cerminan dari kehidupan yang tidak berkarakter kuat untuk menuju bangsa yang berperadaban maju.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

Read the rest of this entry

IKHLas

Karya : Witri Annisa
berikanlah yang baik pada yang baik
berikanlah yang baik pada yang terbaik
berikanlah yang baik pada kebaikan
karena smua akan membaik…
yang baik akan datang pada waktu yang baik…
…IKHLAS…. mungkin “….” bukan TERBAIK untukmu…..
kapan IIKHLAS itu datang…??
saat kau YAKIN itu yang terbaik untuk mu…

PUISI-PUISI

Karya : Dr. Sumiyadi, M.Pd.

SKETSA (panggung)

terlompat masuki gelap semesta

aku jadi anak asuh matahari

menelan cahaya demi cahaya

kuteguk saripati jagat raya

kini tengah kueja senjakala

hingga aku menjelma lentera

tak butuh bintang atawa bulan

sebab akulah sumber cahaya

namun kini minyak kian menipis

sumbu pun harus diganti

tapi yang ada cuma kunang

yang tertebar di tegal nisan

PANGGUNG 1

kami tengah setia menunggu godot

namun layar tampak kaku bak berbesi

kami manusia bebas tak berborgol

layar terkuak, penonton mainkan sebuah tonil

PANGGUNG 2

di mana sang aktor bersembunyi

panggung itu lengang, bangsal laiknya kamar mati

tapi penonton begitu asyik memaku diri di kursi-kursi

tahu, di benak ada tonil berbabak-babak tanpa henti

Read the rest of this entry

SASTRA BANDINGAN

Dr. Sumiyadi, M.Hum

Istilah sastra bandingan bersumber dari bahasa Inggris, yaitu comparative literature. Remak (Stallknecht, 1990:1; Damono, 2009:1) membatasi sastra bandingan sebagai kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara serta kepercayaan yang lain, seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni bangunan/arsitektur, dan seni musik), filsafat, sejarah, ilmu sosial, ilmu alam, agama, dan lain-lain. Ringkasnya, sastra bandingan membandingkan sastra sebuah negara dengan sastra negara lain dan membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan kehidupan.

Berdasarkan batasan tersebut, dapatlah dibayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam aktivitas kajian sastra bandingan. Misalnya, seseoramg dapat mengkaji puisi Rendra yang berjudul “Balada Terbunuhnya Armo Karpo” dengan puisi Spanyol karya Lorca yang berjudul “Muertede Antonito el Camborio”,  novel Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dengan dua novel asing, yaitu novel sastrawan Mesir (Mustafa Lutfi al Manfaluthi ) yang berjudul  Al Majdulin dan novel sastrawan Prancis (Alphonso Karr) yang berjudul Sous Les Tilleus atau drama Saini K.M. yang berjudul Siapa Bilang Saya Godot dengan drama Prancis karya Samuel Beckett berjudul Waiting for Godot. Read the rest of this entry

PENGAJARAN SASTRA DENGAN MODEL ADVANCE ORGANIZER

oleh Dr. Sumiyadi, M.Hum.

Pembelajaran atau perkuliahan di perguruan tinggi adalah proses interaksi mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam interaksi tersebut terjadi proses perubahan yang dialami mahasiswa dalam empat ranah, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), psikomotorik (keterampilan), dan kooperatif (kerja sama). Keempat ranah dalam World Conference on Higher Education yang disponsori oleh Unesco pada tahun 1998 dipadankan dengan learning to know , learning to be, learning to do, dan learning to live together. Perubahan yang terjadi pada diri mahasiswa diharapkan dari tidak tahu menjadi tahu, dari kurang disiplin menjadi lebih disiplin, dari tidak terampil menjadi terampil, dan dari pertentangan menjadi kerja sama. Perubahan yang dialami mahasiswa dalam perkuliahan dilakukan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran. Uraian selanjutnya berisi tentang salah satu model pengajaran efektif yang berpusat pada guru, yaitu advance organizer. Model ini akan disusun sintaksisnya untuk kepentingan perkuliahan kesastraan, khususnya mata kuliah Kajian Drama Indonesia program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di lingkugan FKIP, dan universitas eks-IKIP. Read the rest of this entry

Pendekatan Objektif Novel Jendela-jendela Karya Fira Basuki

Oleh Reka Yuda Mahardika

Pendekatan Objektif

Pendekatan sastra terdiri dari empat pendekatan utama yaitu mimetik, ekspresif, pragmatik, dan objektif. Keempat pendekatan tersebut kemudian mengalami perkembangan hingga muncul berbagai pendekatan seperti pendekatan struktural, semiotik, sosiologi sastra, resepsi sastra, psikologi sastra, dan moral (Wiyatmi, 2009)

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otononm dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang, maupun pembaca (Wiyatmi, 2009).

Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

Sesuai dengan namanya pendekatan struktural memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembacanya (Teeuw, 1984). Read the rest of this entry

Penilaian Asesor BAN-PT

Info Kegiatan

Nama Kegiatan : Penilaian Asesor BAN-PT untuk Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UPI

Hari/Tanggal  : 14 s.d. 16 Juli 2011

Pukul  : 08.00-selesai