Pendekatan Objektif Novel Jendela-jendela Karya Fira Basuki

Oleh Reka Yuda Mahardika

Pendekatan Objektif

Pendekatan sastra terdiri dari empat pendekatan utama yaitu mimetik, ekspresif, pragmatik, dan objektif. Keempat pendekatan tersebut kemudian mengalami perkembangan hingga muncul berbagai pendekatan seperti pendekatan struktural, semiotik, sosiologi sastra, resepsi sastra, psikologi sastra, dan moral (Wiyatmi, 2009)

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otononm dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang, maupun pembaca (Wiyatmi, 2009).

Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

Sesuai dengan namanya pendekatan struktural memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembacanya (Teeuw, 1984).

Pendekatan struktural bertujuan membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetil, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984).

Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan menidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut keadaan, dan lain-lain. Setelah dicobajelaskan bagaimana fungsi-fungsi masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana hubungan antarunsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas-kemaknaan yang padu (Nurgiyantoro, 2010).

Analisis struktural tak cukup dilakukan hanya sekadar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang lain. Namun yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur itu dan

sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai (Nurgiyantoro, 2010).

Konteks Novel Jendela-Jendela

Novel Jendela-jendela menceritakan tentang seorang wanita Indonesia bernama June yanghidup di luar negeri untuk menuntut ilmu, sampai akhirnya kenal dengan seorang laki-laki bernama Jigme.

June dan Jigme akhirnya sampai ke jenjang pernikahan. Banyak pengorbanan yang dilakukan Jigme  untuk menikah dengan June, bahkan sampai berpindah agama mengikuti agama June. Jigme orang tipikal orang yang  sabar, pekerja keras, dan teramat sayang terhadap June.

Mereka hidup di Singapura untuk alasan kedekatan June ke Indonesia. Di Singapura kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Mereka hidup dalam apartemen murah. June yang notabene datang dari keluarga lumayan kaya harus hidup kekurangan karena Jigme yang bekerja hanya sebagai produsen Production House penghasilannya tidak mencukupi. June harus bersedia tinggal di apartemen yang sempit, mencuci sendiri, memasak, dan pekerjaan lainnya sendirian.

Di dalam menjalani rumah tangga selalu terjadi masalah-masalah yang tidak diharapkan seperti kekurangan uang, hubungan dengan suami, dan mengalami keguguran. Segala cobaan selalu dihadapi dengan sabar sehingga keberhasilanpun datang.

Di saat mengalami kekurangan uang dalam keluarganya, June mencoba-coba melamar pekerjaan dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain, namun tidak ada satupun lamaran yang diterima. Akan tetapi akhirnya June mendapat tawaran

pekerjaan menjadi penyiar radio. Dan dilingkungan radio itulah banyak kejadian-kejadian menarik yang terjadi.

Masalah datang menghampri ketika Jigme yang terlalu sibuk dengan pekerjaan membuat June merasa kesepian. Di dalam suasana kesepiannya datanglah laki-laki yaitu sahabat dari suaminya. Karena sering bertemu, wanita dan laki-laki itu menjalin percintaan, sampai perselingkuhan badan pun terjadi. Tetapi alih-alih menyalahkan June, Jigme malah menyalahkan dia sendiri, begitulah Jigme suami yang teramat baik.

Penokohan

Tokoh Jigme

          Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. Plot dipandang beberapa orang sebagai tulang punggung cerita.

Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya sebagai jawab terhadap pertanyaan: “Siapakah tokoh utama novel itu?” atau “ada berapa orang jumlah dalam novel itu?” atau “Siapakah tokoh protagonis dan antagonis dalam novel itu?” dan sebagainya (Nurgiyantoro, …)

Tokoh pertama yang akan dibahas dalam makalan ini adalah Jigme. Jigme adalah suami dari tokoh utama dalam novel ini. Jigme dalam novel ini digambarkan sebagai seorang mualaf yang memiliki karakter saleh dan taat kepada perintah agamanaya. Seperti yang tampak dalam kutipan narasi (1) dan (2) berikut.

(1)   Jigme, suamiku selesai shalat subuh. Sebagai seorang istri yang baik aku pun terbangun. Terkadang shalat subuh terkadang tidak, tetapi yang selalu adalah menyiapkan sarapan pagi dan memastikan pakaian sang suami tidak kusut.

(2)   “Selain sibuk kerja, aku mengambil kelas…”

          “Kelas? Kelas apa?” tanyaku bingung.

         “Kelas mengaji di The Muslim Converts Association of Singpore, itu lho…Darul Arqam di      Geylang.

Selain berkarakter taat kepada ajaran agama Jigme memiliki sifat sayang dan cinta kepada istrinya. Seperti tampak dalam kutipan narasi (3) berikut.

(3)  “Sayang, I love u so much,” kata Jigme setiap pagi. “Aku tidak mau meninggalkan kamu sendiri tapi ya, bagaimana lagi. Take care sayang,” begitu kira-kira ucapan Jigme setiap paginya.

Tokoh June Larasati Subagio

June Larasati Subagio, biasa disebut dalam novel ini “June” adalah tokoh utama dalam novel ini. Sebagai tokoh utama tentu saja ia yang paling disorot dalam cerita ini. Mulai dari kisah percintaannya semasa SMA di Indonesia, kuliah di Amerika, hingga menetap di Singapura. June adalah mahasiswa cerdas. Alasannya dapat kita ketahui dari narasi berikut.

(1)  O, ya? Bilang saja aku bodoh begitu, tidak seperti kamu yang pintar. June Larasati Subagio, si murid A dan B,“ kata Aji dengan nada suara mulai melengking.

June dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang memiliki orangtua kaya, namun bersedia menikah dengan tokoh Jigme yang berkehidupan standar, bahkan sering kurang dengan standar hidup di Singapura.  Bahkan ia sempat menjual semua perhiasan emas tanpa sepengetahuan Jigme, suaminya, agar mampu hidup nyaman di Singapura. Walaupun sudah tinggal di HDB atau Hausing Development Board, alias rumah susun yang dibangun pemerintah Singapura, kehidupan rumah tangga June dan Jigme masih saja mengalami kekurangan. Berikut, no (5), (6), (7), (8), dan (9) adalah kutipan-kutipan ihwal perbedaan status sosial ekonomi antara June dan Jigme yang nantinya menjadi salah satu masalah dalam rumah tangganya.

(2)   Orang tuaku bukan konglomerat hanya sedikit kaya. Apa sih bedanya kaya dan konglomerat? Menurutku, kaya jika hidup diatas standar biasa. Misalnya kalau sebagian besar orang kuliah di Indonesia, orang tuaku mampu mengirim dua anaknya sekaligus ke luar negeri. Sementara, konglomerat adalah jika uang bukan lagi pikiran dan masalah bagi seseorang.

Biarpun Jigme juga sekolah di Amerika tapi orang tuanya tidak kaya. Bapaknya bekerja keras, sedangkan ibunya tidak bekerja kini mertuaku sudah pensiun. Mama ingin jika aku menikah, suamiku bertanggung jawab terhadap kehidupan materiku. Ya, paling tidak keluarganya bisa membantu. Aku selalu memastikan Mama bahwa aku tidak akan

(1)   meminta uang lagi jika menikah. Walaupun aku tahu Mama, jika aku butuh ia akan tetap memberi.

(2)   Ketika memilih Jigme, Mama sudah mengingatkan apakah aku siap untuk hidup mengikuti caranya. Dengan angkuh aku berkata,”aku biasa hidup sendiri di Amerika. Tantangan macam apalagi yang aku takutkan?” Mama benar, selalu benar, Mama bilang aku boros, tidak memikirkan masa depan.

(3)   Jigme tidak tahu kalau aku pergi ke Pawn Shop atau tempat gadai. Gaji Jigme tidak mencukupi hidup kami. Walaupun tinggal di apartemen yang lumayan murah untuk ukuran Singapura dan masih ada sisa setengah lebih gajinya, entah kenapa tidak pernah cukup. Mungkin gaya hidupku yang boros. Makan enak setiap hari, tidak heran jika Jigme jadi sedikit gemuk.

(4)   Karena tidak memiliki uang, kami merayakan tahun baru di rumah. Tanpa televisi, atau hiburan lain yang berarti, satu-satunya cara melewatkan tahun 1997 adalah dengan berbincang-bincang. Sebenarnya, kami nyaris bercinta, tapi suasana yang ingar-bingar di rumah susun ini membuat kami tidak bersemangat.

Dalam novel ini June digambarkan sebagai sosok wanita kesepian karena sering ditinggalkan kerja hingga larut malam oleh suaminya. Rasa kesepian yang dialami June diperparah dengan perasaan bosan karena ia tidak memiliki kerjaan yang bisa membuatnya bahagia dan menghilangkan kebosanannya. Narasi kesepian dan kebosanan June tampak dalam narasi berikut (10), (11). (12), dan (13). Dalam narasi (14) digambarkan sosok June sebagai wanita yang kesepian dan kehangatan. Karena kesepian June digambarkan juga menjalin hubungan gelap dengan sahabat suaminya,

Dean Sahi. Dalam perselingkuhan ini June sampai kepada klimaks perselingkuhan, yakni tidur berdua. Ironisnya, barangkali karena memang gaya hidupnya seperti itu, Dean Sahi lantas meninggalkan June hingga June merasa patah hati dan mendapat getahnya dengan mendapat penyakit kelamin ringan.

(1)   Nyatanya aku kini di Singapura. Yang menyedihkan aku merasa terkucil. Tidak ada teman, selain suamiku yang selalu sibuk bekerja.

(2)   Setiap hari selalu berjalan lambat. Setiap hari aku melakukan hal yang sama. aku sudah mengirimkan banyak lamaran ke surat kabar atau majalah sebagai reporter. Sudah sebulan lebih sejak aku mengirim berkas-berkas lamaran tersebut, sampai berapa lama lagi aku harus menunggu?

(3)   Jangan salahkan aku jika aku mulai menyukai Dean. Sebenarnya, semenjak pertama kali Jigme mengenalkanku pada Dean di Whicita, erselip kekagumanku padanya. Seperti yang kusebut sebelumnya, Dean selalu tampak rapi dan rupawan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu enak didengar. Dan mungkin juga ditambah mobil BMW yang dikendarainya sewaktu sekolah dulu.

(4)   Dengan mudah, aku menerima rayuan ‘coldheart’. Di suatu sabtu pagi, ketika Jigme sedang syuting dan orang tua Dean ke Johor Baru, aku datang ke rumahnya. “Jangan Dean,”ujarku saat tangannya mulai meraba-raba daerah pribadiku.

 ”Ssssttt June…….” Badannya yang tegap meraih tubuhku dari sofa dan mengangkatku ke suatu ruangan: kamar tidurnya

…..

“Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu,” jawabku tersinggung.

Maaf. Jadi apa dong?”

“Aku kena jamur,” kataku kemudian.

“Huh?”

“Vaginaku terinfeksi”

Meskipun suaminya, Jigme, adalah sosok mualaf yang taat menjalankan perintah agamanya, namun tidak demikian dengan June. June malah berkebalikan dengan suaminya, June kalau jaman kini barangkali boleh disebut sebagai penganut Islam KTP. Seperti dalam narasi (14) berikut.

(1)   Aku marah pada Allah, bagaimana aku harus shalat? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya aku shalat. Mungkin lebaran tahun lalu di kampus.

 Tokoh Aji Saka

Aji saka adalah kekasih June ketika masih kuliah di Amerika. Aji saka digambarkan dalam novel ini sebagai seorang anak konglomerat yang selalu bepergian memakai Porsche dan tinggal di apartemen mewah di Amerika. Singkatnya, Aji adalah anak seseorang yang super kaya. Deskripsi mengenai kekayaan Aji dapat diketahui melalui narasi (15) berikut.

Setelah menemaninya belanja untuk mengisi apartemennya, sadarlah aku, orang tuanya pasti beruang banyak. Aji selalu memilih barang yang terbagus atau termahal. Teman-teman di Pittsburg bilang ayahnya memiliki banyak perusahaan, mulai dari makanan hingga perusahaan elektronik. Dari cerita aji sendiri aku tahu orang tuanya

(1)   punya rumah di Manhattan dan New York. Tidak berapa lama Aji membeli rumah di Pittsburg. Dengan uang orang tuanya ia memberiku banyak hadiah mahal, terutama jam tangan Gucci yang aku idam-idamkan.

Sesungguhnya Aji adalah orang yang mampu berbuat baik dan manis di depan orang-orang. Namun demikian di mata kekasihnya, Aji adalah orang yang pecemburu, emosional, dan kasar. June mengira kekasarannya itu diakibatkan oleh perilaku ayahnya yang sering memukul Aji ketika masih kecil. Karakter negatif dari tokoh Aji dapat diketahui dari narasi (16) berikut.

(2)   Aji adalah masalahnya. Semua orang bilang ia baik. Boleh jadi karena itulah aku mau menjadi pacarnya. Aji selalu tampak rupawan dan ramah di depan setiap orang. Sayangnya, aji di luar tidak sama dengan Aji di dalam. Setelah menjadi pacarnya, aku belajar untuk tidak menyinggung perasaannya atau berucap salah. Aji ternyata mudah sekali berkata-kata kasar, dan bahkan melayangkan tangannya. Aji juga pecemburu. Aku tidak bisa menyapa teman priaku jika ia berada di sisiku. Jika aku nekat, ia akan terang-terangan mengubah mimik wajahnya. Bukan itu saja, Aji akan ngambek dan berhenti bicara padaku seharian.  

June menggambarkan juga bahwa Aji adalah sosok yang terganggu jiwanya. Ia kadang bisa terlihat manis, namun beberapa menit kemudian bisa berubah menjadi sangat kasar. Bahkan karena perubahan sikapnya itu, June menyarankan Aji untuk memeriksakan dirinya ke psikiater. Seperti terlihat dalam kutipan (17) berikut.

(3)  Dua tahun bersamanya seluruh perasaanku bercampur aduk. Adakalanya ia baik dan manis. Pada dasarnya Aji mungkin baik, entah kenapa ia selalu berubah begitu cepat. Aku pernah menyuruhnya berkonsultasi pada psikolog kampus, namun ia marah-marah.

Tokoh Dean Sahi

Dean sahi seorang manajer bioskop sesungguhnya adalah sosok antagonis dalam novel ini. Tetapi sebelum saya memberikan deskripsi kelakukan jahatnya, saya akan menggambarkan terlebih dahulu karakter Dean Sahi sebagai sosok yang sangat paham mengenai fesyen. Ia adalah sosok yang modis karena paham bagaimana cara memadukan warna pakaian sehingga sangat gaya dan enak dipandang, dalam kutipan (18) berikut.

(1)   Dean, sahabat Jigme yang kukenal di Amerika sekarang tampil lebih gaya. Seorang manajer bioskop di Bugis Junction. Bukannya dulu ia tidak gaya, jangan salah, Dean selalu gaya. Walaupun aku sering menjumpainya hanya berkaos dan celana denim, namun ia tampak gaya. Dean selalu memasukkan bajunya ke dalam dan selalu mengenakan ikat pinggang. Warna-warna yang dipilihnya pun selalu enak dipandang mata dan senada.

Latar tempat

Tokoh utama dalam novel ini yaitu June dan Jigme tinggal di rumah susun atau HDB atau House Development Boarding, Singapura. Seperti tampak dalam deskripsi (19) berikut.

(1)   Belum lagi jika mereka tahu aku tinggal di HDB atau Housing Development Board, alias rumah susun yang dibangun pemerintah singapura. Siapa sangka aku rela tinggal seperti ini? Apalagi bagi mereka yang tahu siapa kedua orangtuaku.

           Mereka (tokoh utama) tinggal di Singapura ketika mereka menjadi suami istri. Sebelum menjadi suami istri tokoh utama dalam cerita ini menghabiskan masa kuliahnya di Amerika, tepatnya di Pittsburg State University. Deskripi tersebut dapat diketahui dalam kutipan (20).

(2)  Pilihanku untuk kuliah di Pittrburg University tidaklah salah. Tempatku belajar dan kota Pittsburg ibarat telur goreng, di mana universitas adalah kuningnya dan kota adalah putihnya.

Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan unsur penting dalam karya fiksi. Sudut pandang dianggap sebagai salah satu unsur fiksi yang penting dan menentukan (Nurgiyantoro, 2010). Pendapat Nurgiyantoro tersebut sejalan dengan pendapat Abrams (1981), sudut pandang masuk menjadi salah satu unsur penting dalam teori fiksi modern dan segera menjadi Topik of the day.

Mengingat pentingnya sudut pandang dalam cerita fiksi, lantas sudut pandang apa yang digunakan dalam novel ini? Pertanyaan tersebut akan langsung dapat dijawab melalui kalimat pertama cerita ini yang terdapat dalam kutipan (21) dan (22).

(3)   “Selamat pagi Singapura!” teriakku sambil merentangkan kedua lengan dan menjulurkan kepala keluar jendela.

(4)    Ritualku setiap pagi? Sudah sebulan aku tinggal di rumah susun ini dan dari hari ke hari tidak ada yang berubah. Pukul enam pagi biasanya aku bangun, itu juga ketika Jigme, suamiku selesai shalat subuh.

Dari kutipan dapat disimpulkan bahwa novel ini menggunakan penyudutpandangan “Aku”-nya Jean. Penggunaan sudut pandang dalam sebuah karya fiksi memang merupakan masalah pilihan. Namun barangkali, ia juga masalah kesukaan atau kebiasaan pengarang yang bersangkutan. Artinya, dengan sudut pandang pilihannya itu ia mampu bercerita dengan lancar, baik, dan mampu mengeluarkan semua gagasannya (Nurgiyantoro, 2010).

Plot

Plot menurut Foster dalam Nurgiyantoro (2010) adalah peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. Plot merupakan unsur fiksi yang penting, bahkan tak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain (Nurgitantoro, 2010).

Plot awal pada novel ini berisi perkenalan tokoh-tokoh utamanya. Seperti dimana tokoh utama tinggal, kuliah, bagaimanakah karakternya, suasana alam, waktu kejadian, dan lainnya. Selain itu siapa-siapa saja tokoh yang dekat dengan tokoh utama tersebut seperti bagaimanakah sosoknya, karakternya,  maupun kehidupan-kehidupan lainnya. Tahap perkenalan dapat kita ketahui dari narasi (23), berisi perkenalan mengenai latar tempat tokoh utama tinggal berikut.

(1)   Setelah ritual yang melelahkan inilah biasanya aku bertengger di jendela. Walaupun pemandangan di hadapanku hanya gedung yang berhiaskan pakaian berkibar-kibar, paling tidak aku bisa melihat ke angkasa, ke birunya langit atau bergumpalnya awan, juga melihat genitnya burung berkicau….selain dua ruangan tempat kami tinggal, maksudku, selain dapur ruang tamu merangkap tempat tidur dan ruang dapur merangkap ruang serba guna tempatku berdiri sekarang ini. Masih ada kamar mandi sempit tempatku melakukan ritual mencuci pakaian di samping ruang ini.

Plot tengah dapat juga disebut tahap pertikaian, menampilkan pertentangan dan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya, menjadi semakin meningkat, semakin menegangkan. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal, konflik yang terjadi dalam diri seorang tokoh, konflik eksternal, konflik atau pertentangan yang terjadi antar tokoh cerita, antara tokoh-tokoh protagonis dengan antagonis. Konflik dalam novel ini dapat kita ketahui gambarannya dalam sedikit narasi konflik eksternal antara June dengan Dean dalam kutipan (24) berikut.

(2)  Dean berdiri depan pintu sambil mengulurkan tangannya Aku tidak membalas jabatan tangannya. Dean kemudian menarik kursi dan mempersilakanku duduk.

“Aku perlu bicara,” kataku kemudian

Mendadak muka Dean pucat.

“Jangan kuatir, Aku nggak hamil kok,” kataku menjawab ketakutannya.

Dean menghela nafas lega.

“lalu ada apa, June? Apa soal kita? Jika iya, sudah kukatakan padamu aku tidak bisa lagi berhubungan,” jawabnya.

“Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu,” jawabku tersinggung.

Maaf. Jadi apa dong?”

“Aku kena jamur,” kataku kemudian.

“Huh?”

“Vaginaku terinfeksi”

          Plot akhir (tahap akhir) sebuah cerita, atau dapat juga disebut sebagai tahap peleraian, menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Jadi, bagian ini misalnya berisi bagaimana kesudahan cerita, atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir sebuah cerita. Dalam teori klasik Aristoteles, penyelasaian cerita dibedakan ke dalam dua macam, yakni kebahagiaan (happy end) dan kesedihan (sad end) (Nurgiyantoro, 2010).

Plot akhir dalam novel ini dikategorikan masuk ke dalam kebahagiaan (happy end), karena June dan Jigme akhirnya mampu menyewa apartemen yang lebih besar dari sebelumnya yang sempit. Selain itu mereka berdua pun akhirnya saling memaafkan dan saling mempercayai satu dengan lainnya. Karena pada dasarnya mereka bersatu karena jalinan cinta. Kutipannya terdapat dalam nomor (25).

Mengapa aku ingin pindah? Kembali ke bosan tadi dan juga jenuh. Selain itu begitu banyak kenangan buruk terjadi semenjak kami pindah. Aku membujuk Jigme untuk pindah ke tempat baru dan memulai kehidupan baru. Yang berbahagia bersamanya. Bahkan, siapa tahu memiliki anak di lingkungan yang baru nanti. Jigme setuju apalagi jigme mendapat promosi menjadi senior produser di tempatnya bekerja. Walaupun belum bisa bermewah-mewahan, namun kami bisa mulai hidup nyaman.

Amanat

Dari awal pembukaan, penulis sudah menyapa pembaca dengan alasan mengapa “tidak ingin menutup jendela”, karena dengan membuka jendela inilah ia bercerita. Membuat orang bisa “mengintip” apa yang ada di dalamnya. Novel jendela-jendela ini penuh dengan cerita-cerita kejujuran ihwal kehidupan. Membaca novel Jendela-jendela seolah-olah kita diceritakan bagaimana keadaan June Larasati Subagio di Singapura dengan berbagai ulasan kehidupan yang agak pahit, asam, dan manis, kehidupan di Amerika (Pittsburg) dengan segala gambaran penduduknya.

Setelah membaca beberapa kali penulis menyimpulkan ada beberapa amanat yang hendak disampaikan penulis novel kepada pembacanya. Secara tersirat novel ini mengamanatkan bahwa sebuah keluarga, dimanapun, pasti akan dilanda masalah. Contohnya keluarga muda tokoh pasangan Jigme dan June ini. Dengan latar amerika dan Singapura keluarga ini berusaha semampunya mengatasi masalah-masalah cukup pelik, di antaranya perselingkuhan yang dilakukan June dengan Dean Sahi, sahabat suaminya sendiri.

Hidup bergelimang harta tidak selamanya membuat hati bahagia. Masalah pasti saja ada. Barangkali itu juga yang ingin disampaikan penulis lewat tokoh Aji Saka, seorang keturunan konglomerat yang ternyata memiliki kelainan psikologis. Secara tersirat Aji Saka digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki tanggung jawab bahkan senang memperlakukan kekasihnya, Jean, secara kasar. Klimaksnya Jean akhirnya meninggalkan Aji Saka, akibatnya Aji Saka sempat dikira gila oleh kawan maupun dosennya karena ternyata perilaku Aji menyimpang drastis seakan tidak mampu hidup tanpa Jean, kekasih yang sering disakitinya tersebut.

Gambaran kita mengenai negara maju hendak diungkap dalam novel ini. Bayangan kita mengenai negara-negara kaya tersebut nyatanya tidak selamanya benar. Bahwa kehidupan manusia sangatlah kompleks hingga masalah pasti selalu ada dimanapun.

Meski berlatar di negara sekuler dan hendak memotret kehidupan manusia modern yang sarat dengan kehidupan bebas, novel ini sedikit mengisahkan mengenai kehidupan religi tokoh utamanya yang beragama Islam. Hal ini tersurat terdapat dalam dialog pengakuan June dan Jigme saat June mengaku telah berselingkuh dengan Dean Sahi.

Jigme ketika mendengar perselingkuhan tersebut tidak lantas marah, namun langsung berintrospeksi diri dan mengakui “mungkin” ini kesalahan dirinya karena terlampau sibuk bekerja. Dialog itu menggambarkan juga kekagetan June, nyatanya suaminya yang mualaf tidak marah, malah mengaku bahwa dirinya saat ini sedang belajar mengaji di The Muslim Converts Association of Singapore. Pengakuan suaminya tersebut lantas mempermalukan dirinya yang sudah lama tidak pernah shalat. Terdapat juga sebuah dialog berupa nasehati orangtua June supaya June tidak lupa shalat meski tinggal di Amerika (26).

(1)   “Banyak-banyak berdoa ya dan berzikir. Minta maaf sama Allah”

Terdapat pula amanat yang disampaikan melalui deskripsi kebudayaan Jawa, tampak dalam kutipan (27) dan (28). Kutipan tersebut merupakan gambaran lain tentang budaya Jawa yang masih terdapat tradisi anak-anak berupa bermain di halaman saat bulan purnama. Dan tentang bibit, bebet, bobot dalam budaya Jawa yang harus dipikirkan dalam mencari istri ataupun suami.

(2)   Namun, lagi-lagi, aku si bayi kuning. Kuning bukan hanya seminggu, tapi hingga sebulan. Tidak disinari dan tidak diapa-apakan.Berlainan dengan sudut pandang kedokteran, bayi kuning menurut orang Jawa justru adalah ’istimewa’, suatu pertanda bahwa si jabang bayi adalah ’orang pilihan’ atau titisan. Untuk menghilangkan warna kuning badan, diadakan prosesi banyu gege untukku, yaitu mandi dengan air hangat yang di jemur matahari.

Menurut Yangti, dalam literatur Jawa Kuno dikenal adanya kitab Jangka Jayabaya. Kitab ini disebut-sebut pakar sejarah sebagai isyarat kerohanian sejarah Nusantara masa lampau hingga masa depan. Ciri-cirinya? Satria Piningit adalah seorang yang usianya muda atau berjiwa muda, bersifat satria yaitu gigih, berani dan bertanggung jawab (ksatria). Disebut piningit atau artinya disimpan, karena kedatangannya yang diidam-idamkan dan tepat pada masanya.

Latar Belakang Sosial Budaya Pengarang

Novel Jendela-jendela karya Fira basuki menurut penulis terilhami pula oleh latar belakangnya. Bahkan bila tidak menyadari bahwa sifat sastra adalah imajinasi, penulis sempat terkecoh dengan menganggap bahwa novel ini menceritakan ihwal biografi Fira Basuki sendiri. Karena bila ditinjau sekilas melalui penekatan sosiologi sastra ada kesamaan “isi” antara kisah pada novel dengan biografi penulis. Dan barangkali ini merupakan hipotesis yang dapat diteliti, kelak, bahwa Novel Jendela-jendela pada khususnya dan karya Fira Basuki umumnya untuk diteliti dengan pendekatan Sosiologi Sastra.

Berikut adalah sekilas latar belakang Fira Basuki yang penulis dapatkan dari berbagai sumber. Fira Basuki lahir di Surabaya, 7 Juni 1972. Setelah lulus dari SMU Regina Pacis di Bogor tahun ia meneruskan studi Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia. Setahun kemudian Fira pindah ke Jurusan Communication-Journalism di Pittsburg State University, Pittsburg-Kansas, USA dengan gelar Bachelor of Arts.

Selanjutnya, selama musim panas hingga musim gugur 1995 ia meneruskan studi master di jurusan Communication-Public Relation, Pittsburg State University.Pengalaman menulisnya cukup banyak, diantaranya pada masa SMU ia pernah menjuarai berbagai lomba menulis, baik yang diselenggarakan oleh majalah seperti Tempo dan Gadis, maupun oleh instansi seperti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, LIPI, dan FISIP-UI.

Menulis akhirnya menjadi dunia Fira Basuki. Ia juga pernah bekerja di majalah Dewi dan pernah menjadi kontributor pada beberapa media asing seperti Sunflower, Collegio, dan Morning Sun di Kansas, USA. Dunia Broadcast juga pernah dirambah Fira, antara lain sebagai anchor/host pada CAPS-3 TV, Pittsburg, Kansas. Kini ibu dari Syaza C. Galang dan istri Palden T. Galang ini tinggal di Singapura dan bekerja sebagai part-time presenter pada radio Singapore International sekaligus sebagai kontributor majalah Harper’s Bazaar-Indonesia.

          Novel pertamanya, Jendela-jendela, telah dicetak ulang dalam lima bulan pertama. Kini penerbitannya dalam bahasa Inggris bahkan akan di sinetronkan dengan penulis skenario Arswendo Atmowiloto. Boleh dikatakan judul maupun isi cerita dalam novel-novel Fira Basuki sarat dengan pola budaya Jawa, seperti diakuinya sebagai orang Jawa ia sudah akrab dengan pola hidup budaya Jawa, apa    yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai orang Jawa. Sejak kecil Fira sudah menyenangi buku-buku kuno seperti Serat Centhini misalnya, tapi juga senang mempelajari budaya daerah lain hingga ketika di SMP ia pernah meraih juara I menulis tentang budaya Sunda.

REFERENSI

Basuki, Fira. Jendela-Jendela. 2001. Jakarta: Grasindo.

Djoko Pradopo, Rahmat. 2003. Prinsip-Prinsi Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Wellek, Rene & A. Warren. 1989. Teori Kesustraan. Jakarta: PT Gramedia.

Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Pinus.

About vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 08/07/2011, in Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: