PUISI-PUISI

Karya : Dr. Sumiyadi, M.Pd.

SKETSA (panggung)

terlompat masuki gelap semesta

aku jadi anak asuh matahari

menelan cahaya demi cahaya

kuteguk saripati jagat raya

kini tengah kueja senjakala

hingga aku menjelma lentera

tak butuh bintang atawa bulan

sebab akulah sumber cahaya

namun kini minyak kian menipis

sumbu pun harus diganti

tapi yang ada cuma kunang

yang tertebar di tegal nisan

PANGGUNG 1

kami tengah setia menunggu godot

namun layar tampak kaku bak berbesi

kami manusia bebas tak berborgol

layar terkuak, penonton mainkan sebuah tonil

PANGGUNG 2

di mana sang aktor bersembunyi

panggung itu lengang, bangsal laiknya kamar mati

tapi penonton begitu asyik memaku diri di kursi-kursi

tahu, di benak ada tonil berbabak-babak tanpa henti

BURUNG LEMANGIT

dalam antrean miliar ruhani

di setiap jejak menitik keringat

namun aku tak pernah pasti

kapan iring-iringan ini berhenti

di langit matahari bagai bola tenis

dan senja tak mau diajak kompromi

mestikah kuambil jalan pintas

menyusur samudera

lewat kendara

yang kususun jadi bahtera?

jejak basahi bumi yang luka

keringat menjelma bulir darah

yang mengalir menuju pantai marwah

tibalah kini aku melihat beburung di cakrawala

mulutnya menembangkan lelagu kembara

kutahu kelana mengarungi letih

maka, kuputuskan!

tetap di antrean ruhani

sebelum terseret burung lemangit

yang siap dimangsa bedil pemburu

SYAIR KEMARAU

memandang sumurmu kekasih

aku tak tahu jarak mesti dititi

batu kucemplung berharap pendar air

namun yang tersimak cuma rerintih

menimba sumurmu kekasih

aku jadi mengerti makna letih

temali diulur kerek ditarik

namun yang terciduk seember angin

menggali sumurmu kekasih

aku jadi paham makna ngeri

ribuan kali perut bumi kulinggis

namun yang mengalir keringat sendiri

naik dari sumurmu kekasih

aku terkungkung jerit sendiri

ember harus kembali diganti

namun yang kuulur

usus sendiri!

TRANSFER SAPI)

kunikmati engkau di meja makan

di kertas plastik, di antara balutan

tepung terigu made in America

engkau dibesarkan gembala mana, aku tak tahu

engkau dipotong jagal siapa, aku tak tahu

tapi kunikmati engkau di meja makan

di kertas plastik, dan bistik buatan Prancis

aku pastikan engkau cemberut

sebab rumput penuh junk food sebab pisau

berbismillah listrik sebab nafasmu di ujung ban berjalan

engkau kepingin protes, marah, dan melenguh

tapi engkau kini tinggal di perut,

menyatu dengan darah dagingku

barangkali aku masih dapat membantu

dengan meninggikan tekanan darah

atau membuntukan jalan jantung

LAGU PENGEMBARA

kaulah induk elang itu!

mencari pakan

dibentur runjam karang

dikuntit bedil pemburu

dijerat pukat kesepianku

tapi aku mengejarmu

untuk kulepas

dan aku bahagia

penuh keriangan seorang anak

yang menabur umpan

di kotak aquarium. Bukan!

tapi seperti Nero yang membakar kota Roma

lalu menadah air matanya

pada sloki kesunyian raja-raja

terbanglah menemu anakmu

dongengkan kisah 1001 malam

atau tentang Ratu Calypso

yang gagal menggoyah kesetiaan pahlawan

boleh juga tentang orang Amerika

yang terdampar di Casablanca

tapi jangan tentang nyanyi sunyi

seorang kabilah di padang pasir

ia akan kuganggu

setelah istirah di tebing tinggi

CASABLANCA

harusnya tak ada pertemuan

kau buku yang tamat kubaca

dan ini adalah negeri

pengasinganku yang terakhir

angin mana menerbangkanmu

ke mari. Atau kaukah kutukan itu

yang kuhindar dari ribuan mimpi

tegukan anggur dan kepulan

asap tembakau

akulah biduk yang akan membelah

laut menuju tepian hidup, katamu

padahal sejarah tak pernah pupus

kenangan tak kenal lampus

sementara antara ambang dan gelombang

laut mengekalkan nestapa pengembara

jadi baiknya kau bersiap untuk tidur

sementara akan kusiapkan pergelaran

kau pemain utama

dan aku sang sutradara

SYAIR  BIJI TASBIH (yang agung)

tak ada leleh peluh dan darah

pedang tetap bisu di dinding

bedil masih beku dan dingin

tapi kuyakinkan

inilah kemenangan gemilang,

meski cuma bermodal sebiji tasbih

dan ini tak sebanding atas ababil

yang melunas tentara bergajah

juga daud yang menyentil raja zaluth

tak ada tegang dan urat kerut

singanafsu terkerangkeng lumpuh

saat lentera kalbu

terbias berkas cahaya-Mu

AMSAL (burung)

hidup tanpa rencana adalah dunia paragram

istirah di tebing-tebing tinggi setelah melawat

samudera jauh, lalu bertanya

ke mana lagi terbang

melintas benua

atau mengganggu kabilah di padang pasir

KAU PUN LEPAS (burung)

dahaga dan laparku minggat

ketika tubuh kutukikkan ke sebuah danau

kupatuk seekor ikan dan kusegarkan seluruh raga

dari jauhan kulihat kembali danau itu

berpendar membentuk alur asmamu

bodohnya aku meninggalkanmu!

ZIARAH DARAH (burung)

aku terbang kelewat jauh

menembus ruang

dan lorong-lorong waktu

hingga kutemukan jejak perang tanding

yang tak dapat kulerai itu

kucari kubur saudaraku yang gugur

namun cuma kudapat sebuah nisan

: habil

AKU DIMATA-MATAI (yang agung)

mata itu selalu menguntitku

kapan dan dimana pun

ia dapat mengokang bedil itu

lalu mengarahkannya ke bilik jantung

tapi aku jengah istirah tambah mengalah

biar kusiulkan dahulu mazmur itu

lalu kueja kata-katamu itu

hingga ditemukan jalan

yang membawaku ke negeri cahaya

duh, bagaimana upaya menghampirimu

biar kelak dihampirimu?

KETEMU SINBAD (burung)

saat  melintas samudera seketika angkasa gelap

burung rukh tengah terbang di atas ragaku

kepak sayapnya menggelapkan seluruh pandangan

kukejar karena di satu kakinya

ada makhluk terikat seutas kain

aku ingin berteriak jangan

tapi makhluk itu kadung lari ke lembah penuh naga

siapa dia, tanyaku pada rukh

“Ia sinbad, serpihan  seribu satu malam

yang tersesat di sebuah pulau”

mengapa tak kauakhiri dengan cakarmu

“Biar cakar pengarang yang menamatkannya”

bagaimana kalau pemburu tahu?

rukh melotot, lalu terbang menjauh

LANGIT MAKIN MENDUNG (burung)

aku sampai di sebuah padang

:lapang penuh api dan cahaya

namun latarnya aneh dan asing

bermiliar burung tengah baris

lalu keselidik satu demi satu

barangkali ada yang pernah singgah di Jakarta

memenuhi tugasmu sebagai samaran Jibril dan Muhammad

kerja melelahkan namun cuma berbuah gelengan kepala

kuselidik sekali lagi hingga letihku sampai di titik jenuh

akhirnya kutemukan juga: ia nampak murung dan tak bahagia

iakah yang bertengger di gerbong-gerbong

beraroma pesing dan maksiat itu?

ia mengangguk malas dan mengeluh

“Sayang! Aku tidak mengenalNya”

EPISODE SRI RAMA YANG HILANG (burung)

akhirnya kutemukan prototipe bangau yang lehernya  memanjang

“Ini hadiah Rama yang gigih mencari Sita Dewi!” katanya

meliuk-liukkan leher barunya

siapa Rama?

“Ia adalah anaknya Nabi Adam”

aku belingsat meninggi awan

ribuan tahun ia kucari

karena si bikin perkara itu

tentu tahu di mana kubur saudaraku

kupasang radar mata dan telinga

namun cuma kedengar suara erang

di sebuah jeram berair darah

jatayu!

“Ya, aku tengah menunggu Rama.”

datang saat yang tepat karena ia kutunggu juga

“Kau ingin berkahnya?”

“Aku ingin kematian  datang lebih cepat.”

aku menunduk lalu perlahan terbang menjauh

ia bukan kabil dan aku belum siap bertemu pemburu

MIMPI JADI PEMBURU (burung)

aku menegur seekor bayan

mengapa membunuh kedua anaknya

betulkah  mereka mendapat kasih sayang

puspa wiraja  dan pangeran-pangeran itu? bayan menggeleng

“tentu akan kubiarkan mereka senasib

dengan anak-anakku”

atau karena lapar seharian terbang

“aku terbang

karena mencari makan buat mereka”

atau karena percaya reinkarnasi

“aku lebih percaya

barzakh pemisah”

lalu bayan bercerita tentang khidir yang diikuti musa

tentang perahu bagus yang dibuat lusuh

dan rumah batu yang nyaris ambruk

“tapi yang memesona adalah tentang anak yang dibunuh” serunya sambil terbang menjauh

ZIARAH SAJAK (pangung)

di senja senyap

di pelabuhan kecil

aku mengikut camar yang melayang

menepis buih mengurai puncak menyisir semenanjung

betapa payah mereka kukejar!

kupusatkan saja pada rupa mahasempurna

namun sayapku tergulung hingga menyinggung muram

mestikah aku berserah pada pemburu

dengan memintamu menggeleparkan aku

di ranjang bisu

atau menggali kubur

untuk kepalaku yang rela dipancung?

baiknya kupinjam saja kapak bermantra itu

sambil belajar menyihir hujan, bermeditasi

dan menyetop abad yang berlari!

BUKAN ELANG LAUT (burung)

di sinilah di runjam-runjam karang

aku selalu menghadirkan kenangan itu

saat ia menjentik puncak gelombang

dan aku mengekornya dari belakang

“kalau aku kautangkap

aku abadi untukmu!”

kukanonkan tubuh sampai ke titik langit

dan bagai pilot kamikaze kulesatkan tubuh ke jantungnya

ia pun kutangkap dan kami bicara tentang hari bahagia itu

namun setelah itu tak ada kabar

selain pengumuman di mana-mana

: awas ada pemburu!

sembilan bulan sembilan hari

aku sembunyi

dan kini di sini

di runjam-runjam karang

ia datang menguak kabut laut yang suram

kukapai ia, namun pemburu lebih kilat menyergapnya!

teriakku tak bersuara, namun di antara benturan ombak

kudengar lamat-lamat

“anak-anak kita…..!”

HIJRAH BURUNG (burung)

berapa lama aku terbang

jauhi  rumah cahayamu

pintu senja masih jauh

burung gagak enggan bersahut

namun keluasan awan kelabu

lapangkan beribu mimpi buruk

hingga aku nyaris dipatuk

bedil pemburu!

SEPASANG BURUNG DI GOA TSUR (burung)

Baiknya kauerami

bakal anak kita di sebongkah

Goa teramat gelap

Meski tak tahu

Kapan pemburu takut pada hitam

Inilah satu-satunya cara

untuk bertahan

Baru kali ini

kita kagumi lelap kelelawar

Dan lukisan laba-laba

Baru kali ini

kita benci cecak

Dan cahaya

Sungguh, kita mesti senyap

Sebab goa telah dihuni dua manusia

:satu penuh kasih sayang

Satunya lelap di pangkuan

Jangan sampai terjaga!

Biarkan mimpi tentang safaat

Yang dilimpahkannya kepada kita

GEMA ITU (burung)

aku tutup kedua kuping

ia semayam di bilik kalbu

aku kunci gerak lidahku

ia menyeruak jadi air bah

Bismillah!

TESIS WAKTU (panggung)

tak ada yang lebih tenang selain waktu

mengintip genesis dan datangnya maut

lewat tangan berhompimpah

lalu bermain petak umpet

padahal gunung karang meleleh kala angin tercipta

vulkano muntahkan batubatu kala tanah menggeliat

perut laut mengamuk kala aku melepas jangkar!

tak ada yang lebih batu selain waktu

berdiri diam dan dingin

namun menggesek kabil

agar menghunjam batok kepala habil

bukankah batu berkobar saat menyelusup

tubuhtubuh tentara bergajah? batu melontari iblis

di tanah suci, namun melempari nabi di negeri thaif!

tak ada yang lebih waktu selain waktu

meredam lolong nafiri izrail

di antara gelombang dengkur tidurku

KRITIK SAJAK (panggung)

kala engkau berjalan di belantara

aku menghunjam mata,hidung, dan kupingmu

tapi engkau malah asyik mencari ular

yang dulu memperdaya adam hawa

kala engkau menyusur telaga, layari pantai dan samudera

aku menelusup pori-pori jangat

lalu menyatu lewat biang keringat

tapi engkau lena mencari khidir, kapten ahab, sinbad,

dan dewa ruci

engkau teramat puas

segala hasrat terangkai dalam kata

meski aku tetap mengira, hal itu mengada-ada

DISCO PIGS (panggung)

kali ini kita berperan jadi anjing, katamu

lalu dalam telanjang kita bergumul

tercebur dalam genangan banyu noda

tubuh kita basah menitikkan bulir dosa

namun kucari juga kain pembalut malu

yang teranyam dari serat kapas doa

sekarang kita harus menyalak, katamu

bisiki angin dan satwa segala burung

kabarkan betapa nikmat secawan anggur

di atasnya mengepul wewangi firdaus

beri aku setenggak: engkau bergirang

cekakakmu menyeruak awan, bangunkan dewa

menyatroni malaikat  yang lagi istirahat

kasih aku semangka: semangka tak ada

lalu engkau sayati tubuh sendiri, hingga

memercik darah, lalu bumi terbakar api

kini aku membelalak teringat kakek adam

tapi engkau malah mengakak menuju danau kaldera

sementara bumi luka parah dan aku bau kaldera

kasih aku doa!

namun denyut jantung tak nyebut allah

sedang lidah tumpat pedat, segala usus tak rangkai ayat

kasih aku doa!

lalu kusilet urat nadi

hingga darah

muncratkan dajal!

SAJAK FANTASI (panggung)

semula aku tak peduli

engkau menggambar seekor anjing

hitam bermata liar, liur meleleh di taring

barangkali engkau kelewat lapar hari ini

sedang warung terpencil, perbekalan basi

dan di bukit pohonan cuma  pinus berkawat duri

sebotol aqua habis jadi pengencer cat

di jauhan tampak anjing kampung menggigit tulang

semula  tak peduli

engkau hadiahi aku

gambar seekor anjing

bukankah tamasya kita lengkap hari ini?

tengoklah ke angkasa: elang terbang sungguh perkasa

matahari nanar, namun denyutnya terasa ke segala hayat

mengapa seekor anjing?

kuharap ini  gurauan lucu

tapi hidungku mulai mendengus

bulu-buluku berdiri,lalu aku tengadah ke langit

kini aku terkaing-kaing sambil menggigitmu

yang berubah jadi seonggok tulang rusuk

:kami terbirit

menempuh hutan tropik

DENGAN NAMAMU (yang agung)

dengan namamu

aku menyimak zikir semesta

lewat gelegak laut, letup kaldera

hujan yang melukis bianglala

dengan namamu

aku membaca ribuan ayat

tersebar di reranting dahan

tersimpan di cakrawala

dengan namamu

aku mendedah tabir di dada

menyeruak segala rongga

berlayar di alir darah

dengan namamu

denyutku tak nyebut allah

usus-usus tak rangkai doa

dengan namamu

aku mompakan darah hitam!

dengan namamu

aku…

SIKLUS (yang agung)

adakah tamat satu riwayat

gunung jadi batu jadi pasir jadi tanah

jadilah aku yang mendaki ke puncak gunung

matahari menjewer kulit hingga keringat

terciprat dan darah menjelma luka

“tapi tak ada puncak tanpa akhir

semua pasti tamat!” lalu kuuntun

sepasang kasut, baju, dan celana

jadilah tambang yang memanjang

menyampaikan aku ke puncakmu

tapi, kini aku telanjang!

BAYI SAJAK (panggung)

aku menghamili semesta

benihku dari tawa gunung

dan senyum rembulan

aku mengidam matari

terpincut bintang

dan tarian satelit

tapi bayi siapa ini

tergolek kotor di trotoar

diasuh lalat dan kaleng mentega

barangkali ia pun bayi semesta

terlahir sebelum sempat kunikahi

PERTEMUAN (panggung)

kucium wangi hawa

lalu kukabarkan, akulah adam

yang mengembara dari lembah ke lembah

kenangan pun  mengalir seperti sungai susu

pancuran anggur, dan nyanyi sejuta mazmur

namun pengembaraan berbenih lelah

hingga tulang rusukku menggeliat

harimauku mengaum dari sangkarnya

(hawa, rindukan petaka di surga)

KEMBALI (yang agung)

asal dari bumi

akan kembali ke bumi

tapi ke mana aku kembali

ototku bercampur urat anjing

darahku saripati segalon bir

mungkin angin akan menggiringku

ke sana ke mari bagai gasing

semayam di perut atlantis

sembunyi di mulut lemangit

semburat di air kaldera

namun aku ingin kembali

ke gua asal-usulku

yang senantiasa menganga

disantuni cahaya ilahi

tapi tulangku bercampur besi

kulitku berunsur plastik

sisa-sisa hasil mencuri

barangkali akan lebih baik

mencari ari-ari

yang terpendam di perut bumi

ibu, aku ingin kembali!

ANA KARENINA (panggung)

Engkau hadir lewat orkestrasi meluluhkan salju

memendarkan dinding keremajaanku yang beku

Seperti  juga lentera hati yang pijarnya menghidupi jiwa mati

kuyakinkan,  cinta adalah lautan lepas tak bertepi

tampungan kapal-kapal tambatan hati

Lalu engkau tawarkan bahtera baru

dan sambil menunjuk  laut yang berkabut

“Mari kita arungi demi darah kita yang muda

demi hasrat yang menggapai gairah purba!”

Detak jantung menggodam rasa

memalu sukma, lalu berkejaran di antara roda-roda baja

Sekarang aku orang rumahan, yang kehilangan selain cinta

di luar,  beribu mata & telunjuk siap menguntit & menista

(jangan tanya di mana bayi dan anakku, mereka tak paham makna dosa)

Ketahuilah, aku tanpamu

adalah perempuan pencemburu

karena engkau tanpaku

adalah lelaki pemburu

Kini sampailah waktu

ketika pesona  kutemui di rel-rel besi

kereta senja melesat,  berasap jutaan tangan malaikat

mereka akan membawaku ke negeri seperti surga

“Tuhan, terimalah bunuhdiriku ini….”

SAJAK MENJELANG TAHUN BARU (panggung)

Tak ada bintang, apalagi rembulan

Langit menitikkan hujan dalam gelap

Ada kunang  di pematang masa lalu

lalu kutangkap untuk bahan perayaan tahun baru

SAJAK KETIKA TAHUN  BARU (panggung)

Segulung cerita masa lalu

Kutusukkan ke dalam mulut botol

Gelombang laut mengapungkannya

Ke pulau-pulau.

Tiba-tiba seekor camar berkabar:

Walmiki telah memungut, lalu mengutipnya

untuk lakon carangan ramayana

UNTUK ANAK-ANAKKU (panggung)

Rahim bunda serupa serambi surga

Menangislah, karena Tuhan

hanya memberi kenikmatan

sembilan bulan

Kini engkau mesti merambah

Belantara dunia, seperti dulu nenek kita

Adam dan Hawa

Anakku

Sekolah bukanlah ruji besi

Melesatlah, kulepas engkau

Jadilah beburung kembara

Yang melawat ke barat

memeras mimpi jadi keringat

Anakku,

Hidup  sekedar antrean panjang

Menanti putusan Sang Pujangga

Baca!

Lalu mainkan lakon agung

Agar kalian kembali tiba

di gerbang pintu bunda

BUKAN KITAB OMONG KOSONG (panggung)

Dunia  kembali sebatas kendara

terasa ada diam menyimpan seribu pesona

Padahal, marah padma berselimut subasita

Kebenaran jua yang datang tak bersanggah

Hingga Rahwana melesat  dari aliran darah, O!

SAYONARA II (panggung)

senja kala tiba

penanda tugas telah paripurna

dan di langit ada semburat bianglala

melukis senyum putra-putri bangsa

seraya menorehkan sebait sajak

:Engkau selalu hadir dalam diri

terukir di bilik sanubari

mahakarya di bumi ini

membuat kami jadi berarti

BUKAN PERAHU KERTAS (panggung)

Telaga ini milikku

Rasa dan airnya tawar semata

Namun semua telah kupandang sempurna

Karena asin-garam di laut

Telah menyatu di air matamu

UNTUK PROMOTHEUS (burung)

Kesetiaan ini

Adalah tugas mahadewa

pembodoh segenap umat manusia

pemangsa leda yang jadi sebab huru-hara di troya

Kebosanan ini

Adalah api terik matahari

sebidang dada merah padma

yang terpancang pada sebongkah batu baja

Kelelahan ini

Adalah tinta hitam kitab-kitab purba

memercik dalam buku-buku filsafat

Namun selalu saja gagal

Saat kucari nama sendiri

Kejenuhan  ini

adalah paruh yang menajam, mata nanap

dan sayap berkepak secepat pesawat

Kesakitan ini

Adalah ribuan tahun berlalu

ribuan kali juga angin membusur

lalu memanahkanku ke bilik jantung!

engkau Promotheus, semua orang tahu

Namun inilah aku

Sekedar  burung pemakan bangkai!

SAYONARA I (panggung)

Setelah melawat

Ke negeri-negeri jauh

Kautancapkan patok di tanah air

Membangun negeri membaca:

Nusantara yang literat

Kini

negeri ini

Kata orang masih rabun membaca

Masih lumpuh menulis

Sesungguhnya

Kami juga masih gamang di antara

Huruf k kecil dan huruf B besar

Kami masih kabur di antara

Titik dua, titik koma,

dan titik cakrawala

Sesungguhnya

Kami masih merindukan

kehirauan linguistik  itu!

Kini atau pun nanti

Pada kata yang terbaca

Pada huruf yang tertulis

Kami mesti hirau sendiri

About vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 12/07/2011, in Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: