SASTRA BANDINGAN

Dr. Sumiyadi, M.Hum

Istilah sastra bandingan bersumber dari bahasa Inggris, yaitu comparative literature. Remak (Stallknecht, 1990:1; Damono, 2009:1) membatasi sastra bandingan sebagai kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara serta kepercayaan yang lain, seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni bangunan/arsitektur, dan seni musik), filsafat, sejarah, ilmu sosial, ilmu alam, agama, dan lain-lain. Ringkasnya, sastra bandingan membandingkan sastra sebuah negara dengan sastra negara lain dan membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan kehidupan.

Berdasarkan batasan tersebut, dapatlah dibayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam aktivitas kajian sastra bandingan. Misalnya, seseoramg dapat mengkaji puisi Rendra yang berjudul “Balada Terbunuhnya Armo Karpo” dengan puisi Spanyol karya Lorca yang berjudul “Muertede Antonito el Camborio”,  novel Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dengan dua novel asing, yaitu novel sastrawan Mesir (Mustafa Lutfi al Manfaluthi ) yang berjudul  Al Majdulin dan novel sastrawan Prancis (Alphonso Karr) yang berjudul Sous Les Tilleus atau drama Saini K.M. yang berjudul Siapa Bilang Saya Godot dengan drama Prancis karya Samuel Beckett berjudul Waiting for Godot.

Meskipun contoh tersebut masih dapat diperpanjang, hal itu belum mewadahi semua aktivitas sastra bandingan karena baru mengikuti sebagian batasan yang dikemukakan oleh Remak. Dengan demikian, kita perlu  juga membayangkan kajian yang membandingan karya sastra dengan seni atau bidang disiplin lain. Misalnya, orang dapat membandingkan puisi “Dipo Negoro” karya Chairil Anwar dengan lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh,  puisi Jeihan berjudul “Keluarga Berencana” dengan lukisannya sendiri yang juga berjudul “Keluarga Berencana” atau novel Umar Khayam yang berjudul Para Priyayi dan Jalan Menikung dengan buku antropologi karangan Clifford Gerrtz yang berjudul Religion of Java.

Pengkajian sastra di luar batas-batas negara dapat menimbulkan persoalan sebab konsep negara berada pada ranah ilmu politik dan  bukan pada ranah ilmu sastra. Secara umum  syarat suatu negara adalah memiliki wilayah, penduduk, kedaulatan, dan mendapat pengakuan dari negara lain (Wikipedia). Pertanyaan yang dapat diajukan adalah apabila suatu wilayah negara pecah –karena situasi politik– menjadi beberapa wilayah negara, seperti Uni Soviet apakah dengan demikian sastra Uni Soviet berubah menjadi sastra Rusia, sastra Serbia, sastra Bosnia, atau sastra Checnya? Sebaliknya, setelah Jerman menyatu, apakah dengan demikian tidak ada lagi sastra yang khas Jerman Barat dan Jerman Timur?

Damono mengkritisi definisi Remak yang menyebutkan bahwa sastra bandingan adalah studi sastra di luar batas satu negara. Menurutnya (Damono, 2009:2),  definisi Remak menyiratkan bahwa “membanding-bandingkan karya sastra yang dihasilkan oleh suatu negara saja  tidak bisa dinggap sastra bandingan karena tidak melampaui batas-batas negara. Pandangan ini menimbulkan masalah, tentu saja, sebab dalam sebuah negara bisa saja terdapat dua atau lebih bahasa yang berbeda, yang masing-masing memiliki ciri-ciri kebudayaan yang berbeda pula”. Perbedaan dua bahasa memungkinkan adanya perbedaan sejarah perkembangan bahasa tersebut dan juga perkembangan sejarah pemikiran masyarakatnya. Selain itu, Damono (2009:2) juga mengingatkan bahwa terdapat juga kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra yang melampaui batas negara, misalnya bahasa Inggris yang digunakan oleh negara Inggris, Amerika, Australia atau bahasa  Arab yang digunakan oleh negara Mesir, Arab Saudi, dan Irak.

Berdasarkan kritik yang diajukan Damono, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam kaitan membandingkan sastra dengan sastra, perbedaan negara bukanlah syarat mutlak dalam kajian sastra bandingan sebab negara dalam kondisi politik tertentu dapat pecah menjadi beberapa negara atau sebaliknya, beberapa negara dapat menyatu ke dalam satu negara. Akan tetapi, persoalan perbedaan bahasa, meskipun dalam satu negara adalah hal yang sangat penting sebab bahasa merupakan kristalisasi budaya para pemakainya sehingga memungkinkan munculnya budaya yang beragam, sesuai dengan pemakai bahasanya.

Persoalan kajian sastra bandingan menarik apabila kita kaitkan dengan situasi sastra di Indonesia. Di Indonesia ada yang disebut sastra Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia.  Ada juga sastra-sastra daerah, yang disebut juga  sastra nusantara atau menurut Teeuw (1983) sastra-sastra se-Indonesia. Sastra daerah, tentu saja, menggunakan bahasa daerah masing-masing. Misalnya, sastra Sunda menggunakan bahasa Sunda, sastra Jawa menggunakan bahasa Jawa, dan Sastra Minangkabau menggunakan bahasa Minangkabau. Berdasarkan fenomena tersebut, tampaknya kita dapat memanfaatkan prinsip-prinsip kajian sastra bandingan apabila kita akan mengkaji sastra daerah tertentu dengan sastra daerah lainnya atau sastra Indonesia dengan sastra-sastra daerah. Bahkan, kita dapat mengkaji sastra yang ditulis oleh seorang pengarang, tetapi dengan menggunakan dua bahasa yang berbeda, misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Sunda seperti yang dikemukakan Damono bahwa membandingkan balada Ajip Rosidi yang berjudul “Jante Arkidam” yang berbahasa Sunda dan Indonesia dapat dipandang sebagai sastra bandingan apabila kita menganggap bahwa bahasa adalah hasil kristalisasi kebudayaan dan  dengan dasar pemikiran bahwa “ sastrawan mampu melakukan perjalanan ulang-alik antara dua kebudayaan dan bahwa di dalam masing-masing bahasa ia menyatakan dirinya di dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda “(Damono, 2009:6).

1.1.2 Sastra Bandingan dan Fenomena Sastra Indonesia

Sastra adalah produk budaya. Sebagai produk budaya, sastra Indonesia dapat berupa cerita yang dilagukan, baik dengan tambahan tarian dan instrumen musik maupun tidak; dapat berupa naskah tulisan tangan yang berhuruf  Arab Melayu atau huruf yang bersumber dari bahasa-bahasa daerah, seperti huruf Sunda, Jawa, Batak, dan Bali; dapat juga berupa puisi, cerpen, novel, dan drama yang menggunakan huruf Latin dan biasanya dalam bentuk cetakan, bahkan buku elektronik—yang dapat dibaca di situs internet dan telepon genggam. Fenomena sastra demikian dapat dikelompokkan ke dalam tiga payung besar, yaitu sastra lisan, sastra klasik, dan sastra modern.

Sastra lisan dan sastra klasik setakat ini, meskipun perkembangannya tidak lagi subur karena menjalarnya teknologi cetak dan elektronik, keberadaannya masih merupakan khazanah sastra yang terpendam di berbagai daerah. Sastra yang demikian disebut dengan sastra Nusantara atau sastra se-Indonesia (Teeuw, 1983). Hutomo (1991) menyebutnya dengan “mutiara yang terlupakan”.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32 dimaktubkan bahwa  pemerintah memajukan kebudayaan nasional dan dalam penjelasannya disebutkan bahwa kebudayaan nasional itu adalah puncak-puncak kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah tidak akan menjadi puncak apabila tetap menjadi khazanah sastra yang terpendam, terbiarkan, telantar, dan akhirnya terpinggirkan. Oleh sebab itu, diperlukan upaya pencapaiannya sehingga kebudayaan daerah itu tidak hanya dikenal, tetapi juga diakrabi oleh seluruh bangsa Indonesia. Kondisi demikian dapat memungkinkan kebudayaan daerah memiliki ciri keindonesiaan dan meningkat menjadi kebudayaan nasional.

Kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah sangat penting dalam memantapkan konsep kepribadian dan jati diri bangsa. Terlebih-lebih, konsep kebudayaan nasional memberikan peluang juga bagi unsur-unsur kebudayaan asing yang relevan. Misalnya, dalam penjelasan pasal 32 UUD ’45  (Sedyawati, 2008: 7) dinyatakan bahwa kepribadian dan jati diri bangsa dapat digali dalam (a) kebudayaan lama dan asli  sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia dan (b) bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusian bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, agar kepribadian dan jati diri bangsa tetap bersumber dari budaya bangsa sendiri, harus ada upaya nyata, sungguh-sungguh, dan serius sehingga khazanah pimordial itu tetap menjadi kesadaran kolektif  bangsa Indonesia. Dengan demikan, upaya nyata itu tidak sekadar pelestarian dan peningkatan aset pariwisata, melainkan pembentukan karakter unggul dan adiluhung bangsa.

Akan tetapi, pemertahanan terhadap khazanah primordial setakat ini mesti dianggap sebagai bagian semata dari pembentukan karakter bangsa sebab pada era globalisasi ini kita tidak mungkin memagari terpaan budaya dari luar. Menurut Damono, globalisasi mesti dianggap sebagai kesadaran, keinginan, atau rekayasa bahwa kita kini hidup dalam suatu dunia yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Lebih jauh Damono mengatakan bahwa  konsep globalisasi terjadi  dalam segala bidang kegiatan manusia  jarak dapat dikatakan telah terhapus yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi, terutama teknologi transportasi dan komunikasi (Damono, 2009:53) B.

Berkaitan dengan  penanaman budaya adiluhung bangsa, kita dapat melakukannya dengan mentrasformasi sastra daerah yang berbahasa daerah ke dalam sastra Indonesia. Transformasi atau alih wahana sastra lisan dan sastra klasik se-Indonesia ke dalam media cetak dan elektronik adalah upaya nyata agar nilai-nilai moral yang terdapat di dalamnya dapat dengan mudah terakses dan terserap dalam sanubari penikmatnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan penikmat amatlah beragam. Misalnya,  orang-orang yang membaca cerita anak dan cerita bergambar atau yang menonton sandiwara boneka, teater modern, atau film. Penikmat juga dapat berbagai lapisan usia dan pendidikan.  Akan tetapi, mereka menghadapi fenomena yang sama, yaitu bahan yang dibacanya  bersumber dari sastra lisan dan sastra klasik yang sudah dialih bahasa dan dialih wahana. Ringkasnya, sastra lisan dan sastra klasik yang bersumber dari bahasa-bahasa daerah itu agar dapat tersebar secara nasional perlu ditranskripsi ke dalam huruf Latin dan dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.  Agar penyebarannya dapat diterima dan dinikmati secara optimal, sastra lisan dan sastra klasik yang sudah berbahasa Indonesia itu, kemudian dialihwahanakan ke dalam media cetak dan elektronik dalam wujud buku cerita anak, cerita bergambar,  sandiwara boneka, drama panggung, dan film.

Setelah  menyinggung sastra lisan dan sastra klasik sebagai khazanah sastra Indonesia, kini kita dapat menyoroti fenomena yang terjadi dalam sastra Indonesia modern.

Sastra Indonesia modern adalah sastra yang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia setelah mendapat pengaruh dari kebudayaan asing dan dicetak dengan menggunakan aksara Latin (Damono, 2004:3). Oleh karena itu, apabila ada karya sastra Indonesia modern yang berlatar sastra Nusantara (sastra lisan dan sastra lasik)  belum tentu merupakan terjemahan dari sastra berbahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Hal itu dapat juga merupakan  respons, reaksi, bahkan tolakan atau simpangan terhadap sastra daerah yang merupakan teks dasar, teks rujukan,   atau hipogramnya.

About vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 12/07/2011, in Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: