PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBUATAN FILM INDIE SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INTREGATIF

Karya : Himmah Mufidah

Ki Hajar Dewantara pernah menguraikan konsep pendidikan watak melalui “ tri nga”, yaitu ngerti, ngrasa, dan ngelakoni, dalam bahasa lain disebut kognitif, afektif, dan psikomotor. Ngerti akan membawa kesadaran seseorang dalam memahami nilai, mengambil keputusan, dan melakukan hal-hal yang rasional. Ngrasa membawa individu untuk memiliki kesadaran untuk berbuat baik dan buruk, memiliki kontrol diri, dan menghargai orang lain. Adapun Ngelakoni  merupakan bentuk dari kemampuan seseorang untuk mengaplikasikan pikiran dan perasaan melalui tindakan nyata.

Guru berperan sebagai pengajar dan pendidik mempunyai peran dan fungsi starategis dalam menanamkan pengetahuan dan akhlak/budi pekerti bagi para siswa. Di satu sisi siswa harapankan nantinya menjadi manusia berilmu (pandai, cerdas), namun di sisi lain siswa juga diharapkan nantinya menjadi manusia berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia (akhlakul karimah). Karena manusia yang hanya cerdas saja tetapi tidak berakhlak dikuawatirkan setelah dewasa akan menjadi penjahat rakyat, koruptor, markus, dan sebagainya.

Selama ini  guru sudah berkali-kali menasihati dan memberi contoh sikap dan perilaku luhur kepada siswa-siswinya. Untuk mendidik siswa menjadi insan berakhlak mulia maka diterapkan berbagai cara, metode dan strategi. Namun jika siswa hanya diceramahi  setiap hari tentu akan merasa bosan, dan jenuh. Maka pada kesempatan ini saya akan menyampaikan gagasan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pembuatan film indie.

Pembuatan film indie bukan saja bagian dari ranah afektif dalam pembelajaran, yaitu menanamkan sikap perilaku yang terpuji, bertanggung jawab, saling menghormati, memiliki budi pekerti luhur, kemauan, cita rasa dan berakhlak mulia. Hal itu dapat memberikan pengalaman menyenangkan yang kreatif dan inovatif kepada siswa sesuai dengan yang diinginkan siswa dalam pembelajaran di sekolah.

Pembelajaran kreatif dan inovatif  tersebut  menjadi roh dalam proses pembelajaran. Sehingga ketika siswa memiliki ketertarikan, guru dapat menjembatani dengan inovasi pembelajaran yang kreatif. Oleh karena itu, belajar bahasa Indonesia menjadi lebih aplikatif, ketika diikuti dengan model yang kreatif dan  inovatif.

Belajar bermakna sebagai proses mengaitkan informasi-informasi baru pada konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Pembelajaran harus berpusat pada siswa, sebagaimana dijelaskan pada   Quantum Learning, bahwa pembelajaran yang mengoptimalkan belajar siswa dan motivasi berprestasi pada siswa. Begitu juga dengan pembelajaran melelui pembuatan film indie diharapkan dapat membantu siswa belajar hal – hal yang bermakna dan menyenangkan.

Pembelajaran bahasa Indonesia, bisa dilakukan dengan menggunakan sebuah proyek yaitu pembuatan film indie sekaligus kegiatan festivalnya. Kreativitas dalam proses pembuatan yang melibatkan seluruh siswa bisa menjadi objek pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia melalui film indie dapat melibatkan empat aspek kemampuan berbahasa sekaligus, yaitu keterampilan berbicara, keterampilan, menyimak, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

Mulai dari pembuatan tema, alur, skenario, sutradara, kamerawan, perlengkapan, kostum, sampai editing akan dilakukan oleh siswa secara mandiri. Guru sebagai fasilitator memberi pengantar tentang tujuan dan hasil pada pembelajaran ini. Menyiapkan skenario merupakan kegiatan yang menyita pikiran karena banyak kepentingan dari diri siswa. Selain itu, mengambil objek gambar / syuting hampir memakan waktu  3 minggu. Pengambilan  gambar dilakukan di lokasi sekolah, di kelas, di rumah, dan jalan raya, pengambilan gambar dilakukan sampai malam hari.

Model Pembelajaran Bahasa  Intregatif

Model-model pegajaran sebenarnya juga bisa dianggap sebagai model-model pembelajaran. Saat kita membantu siswa memeroleh informasi, gagasan, skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengekspresikan diri mereka sendiri, kita sebenarnya tengah mengajari mereka untuk belajar. Pada hakikatnya adalah bagaimana siswa mampu meningkatkan kapabilitas mereka untuk belajar dengan lebih mudah dan lebih efektif pada masa yang akan datang, baik karena pengetahuan dan skill yang mereka peroleh maupun karena penguasaan mereka tentang proses belajar yang lebih baik (Joyce, 2009: 7).

Machfudz (2000) mengutip penjelasan Edward M. Anthony (dalam H. Allen and Robert, 1972) menjelaskan bahwa istilah metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini lebih bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.

Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Semuanya itu dapat dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan pemelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi (1) siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa dapat diketahui melalui prinsip-prinsip belajar bahasa yang diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disajikan sebagai berikut. Belajar bahasa dengan baik dapat dilakukan bila (1)  diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).

Pendekatan intregatif atau terpadu adalah kebijakan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan ajar secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, atau mengaitkan bahan ajar sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Memberikan pembelajaran yang aplikatif, menyenangkan, dan menantang tentu sangat menentukan dalam membentuk mental dan pengalaman siswa ke depan. Siswa akan memiliki wawasan dan kreativitas kalau diberikan tantangan berupa pembelajaran yang sesuai dengan usianya.

Setiap pelajaran seharusnya disuguhkan dengan dan berorientasi aplikatif. Seperti halnya Pembelajaran bahasa Indonesia melalui pembuatan film indie. Sesuai dengan tema film yang akan dibuat oleh siswa secara mandiri. Lewat pembelajaran menulis skenario film menjadi script  film, atau pembelajaran wawancara, siswa tidak hanya diberi tantangan berwawancara dengan guru dan karyawan yang ada di sekolah. Atau pada orang tua atau petugas RT/RW yang ada di sekitar rumahnya. Siswa diberikan orientasi bahwa objek wawancara sangat banyak.

Pembelajaran yang dilakukan di sekolah haruslah sesuai dengan sistem pendidikan nasional. Berdasarkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mulyasa (2007), bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik (Pamungkas, 2009).

Pembuatan Film Indie

Film indie pada dasarnya film lepas yang dihasilkan oleh para siswa sendiri. Dengan metode pembelajaran film indie hampir semua aspek nilai bisa diaplikasikan. Aspek keterampilan berbicara, keterampilan menulis, keterampilan mendengarkan, nilai moral, nilai sosial, nilai ketekunan dan ketelitian, bisa terwujud secara integral. Pembelajaran bahasa secara intregatif dapat diterapkan melalui pembuatan film indie. Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut.

  1. Guru menerangkan kompetensi dasar yang sesuai kepada siswa. Dijelaskan pula indikator serta tujuan dan manfaat yang diperoleh setelah mempelajari komptensi dasar tersebut. Guru juga menyampaikan tindak lanjut dari kegiatan ini, yaitu memfestifalkan film indie yang dibuat siswa. Tidak lupa , guru menawarkan metode yang digunakan.
  2. Guru menerangkan gambaran secara umum teori film, teknik pembuatan naskah, pembuatan script film, casting, pengambilan gambar, teknik acting dan pelafalan atau vokal. Bisa juga dengan menampilkan film  indie sebelumnya sehingga siswa dapat mengapresiasi dari berbagai aspek (keterampilan menyimak).
  3. Siswa mulai membuat teks (naskah) dengan membuat sinopsis yang diawali membaca cerita atau cerpen yang sudah ada (keterampilan membaca). Kemudian menyusun jalan cerita, dan pembuatan script film atau naskah ( keterampilan menulis). Setelah teks selesai, guru berperan sebagai konsultan dan fasilitator untuk mengoreksinya. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dan perlu perbaikan.
  4.  Berikutnya adalah   casting  atau pemilihan peran yang sesuai, melalui diaolog-dialog tertentu (keterampilan berbicara). Pada langkah inilah aspek kerjasama terlihat dengan jelas. Setelah casting (pemilihan peran yang sesuai) para siswa berlatih vokal, dialog acting, dan sebagainya. Jika dirasa sudah “matang”, pemilihan lokasi pengambilan gambar dilakukan.
  5. Pengambilan gambar merupakan langkah yang membutuhkan bimbingan secara intensif. Selain pengalaman ini merupakan yang pertama bagi siswa, pada langkah ini sering membosankan karena harus mengulang adegan yang sama dengan waktu yang cukup lama. Nilai kesabaran, ketekunan, kerjasama sangat dominan. Motivasi perlu ditanamkan secara mendalam agar meningkatkan rasa percaya diri siswa.
  6. Setelah pengambilan gambar dianggap sudah selesai, hasil rekaman ditonton bersama-sama satu tim. Mereka mengevaluasi secara keseluruhan. Jika dirasa belum sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, perlu diadakan pengambilan  adegan ulang agar hasilnya lebih memuaskan.
  7. Guru memberi penjelasan secara umum teknik mentransfer hasil gambar dari handycam ke VCD dan penjelasan teknik editing serta teknik pembuatan sampul kasetnya, kemudian para siswa melaksanakannya.
  8. Penyerahan hasil dan penilaian oleh guru pembimbing untuk nilai akademis. Guru  memberi komentar atau evaluasi dari berbagai aspek. Melalui proses diskusi, siswa juga diperkenankan memberi komentar atau pendapat tentang karya mereka. Hal itu dilakukan sebagai proses pembelajaran tanggung jawab.
  9. Mengadakan festival atau  launching. Adanya kegiatan peluncuran film sebagai bentuk apresiasi dari kerja keras siswa dapat meningkatkan motivasi siswa untuk berkreasi. Adanya penghargaan terhadap karya yang diciptakan sendiri, siswa pun belajar untuk saling menghargai dan menghormati dalam bentuk kerjasama antar kelompok dalam proses pembuatan. Kemandirian pun dapat tercipta dengan sendirinya melalui rasa tanggung jawab yang diberikan kepada siswa. Langkah inilah yang ditunggu para siswa, karena hasil jerih payahnya akan ditonton oleh orang lain. Dalam langkah ini, perlu didatangkan tim penilai yang berkompeten, misalnya pemain film/sinetron, atau pengamat film, dengan maksud para siswa sungguh-sungguh termotivasi. Juri memberi komentar pada setiap tim yang filmnya ditayangkan.
  10. Memberikan penghargaan. Langkah ini perlu ditempuh sebab penghargaan sekecil apa pun sangat bermakna bagi siswa, guru menyampaikan penghargaan untuk pemenang berbagai kategori. Misalnya penulis naskah terbaik, sutradara terbaik, kategori film komedi terbaik, kategori film horor,  dan sebagainya. Selain itu penghargaan bisa melalui media masa. Bahwa kegiatan mereka juga ditulis menjadi sebuah berita di media cetak, bahkan bisa juga dikabarkan memlaui media elktronik.

Interaksi sosial juga terjalin saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode ini. Siswa dapat saling membantu satu sama lain pada saat menuntaskan sebuah film yang direncanakan sejak awal. Model ini juga dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa, baik saat apresiasi film mereka maupun  dalam mengungkapkan pendapatnya saat kegiatan peluncuran, karena terdapat proses diskusi antara penonton dan pengamat atau ahli di bidang  film.

Selain itu mereka juga belajar mempublikasikan karya mereka melalui media masa. Mereka dapat menulis reportase kegiatan mereka. Mulai dari proses pra prodiksi, produksi dan pasca prodeksi. Kegiatan yang membutuhkan kerja keras ini sangat menyenangkan, karena akan banyak pengalaman baru yang mereka peroleh. Pemberitaan yang ditayangkan di media masa juga menambah rasa percaya diri mereka dalam mengapresiasi karya sastra dan dalam proses belajar.  Adanya perayaan melalui kegiatan peluncuran film, tercipta kerjasama yang dilakukan untuk membangun kehangatan dalam kelas sehingga proses ini meningkatkan motivasi mereka saat belajar di sekolah.

Suasana belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan karena model yang diciptakan oleh siswa sendiri dengan panduan dan evaluasi dari guru. Pendekatan pengajaran ini dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran secara lebih efektif dan efisien yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil akademis siswa. Selain itu, juga dapat meringankan tugas siswa dan guru dalam menyelesaikan seluruh materi pelajaran dalam waktu yang lebih singkat namun tidak mempengaruhi kualitasnya. Sungguh, pelajaran bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang sangat menyenangkan sekaligus menantang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1994. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud.

DePoter, Bobbi. 2010. Quantum Teaching. Pen: Nilandari, Ari. Bandung: Mizan Pustaka.

Joice, Bruce; Weil, Marsha; Calhoun, Emily. 2009. Model-Model Pengajaran. Pen: Fawaid, Ahmad dan Mirza, Ateilla. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM.

Pamungkas, Dudi. 2009. Jurnal. Teori Belajar yang Melandasi Proses Pembelajaran.

Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

 

About vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 14/07/2011, in Pendidikan Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: