PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI HAL YANG HARUS DIUTAMAKAN DILINGKUNGAN SEKOLAH

Karya : Wa Ode Nur Iman

A.    Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, dan agama yang memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pembangunan. Dalam rangka memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermantabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan tersebut di atas akan tercapai dengan sendirinya apabila kita melaksanakan pendidikan itu sendiri.

Seseorang yang lahir dan dibesarkan dalam satu lingkungan keluarga yang menerapkan kebiasaab-kebiasaan tertentu, secara langsung mempengaruhi pertumbuhannya. Maksudnya adalah pertumbuhan seseorang selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Sifat baik atau buruknya seseorang akan selalu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang ditempatinya. Oleh karen itu, pendidikan dalam lingkungan keluarga sangat menentukan berhasil tidaknya sebagian dasar orang, karena pabila dasar pendidikan dalam lingkungan keluarga kuat maka akan sulit dipengaruhi oleh hal-hal negatif lainnya yang datang dari luat diri seseorang yang biasa disebut dengan ‘pengaruh lingkungan’.

 

  1. B.     Pendidikan Karakter

Sebelum dibahas mengenai pendidikan karakter, terlebih dahuli marilah kita lihat arti pendidikan dan karakter scra umum.

1.      Pendidikan

Mendidik dan pendidikan, dapat dilihat pada beberapa pendpat para ahli sbagaimana dikutip oleh Ahmadi, Abu Nur Uhbiyati (2003:69) berikut ini.

John dewey

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental, secar intelektual dan emosional kea rah alam dan sesame manusia.

SA. Bratanata, dkk

Pendidikan adalah usaha yang diadakan secara langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaanya.

Rousseau

Pendidikan adalah memberiakn kita pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.

Lengeveld

Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang didasari dan dilaksanakan dengan sengaja anatar orang dewasa dengan anak/yang belum dewasa.

Hoogeveld

Mendidik adalah usaha membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri.

Ki hajar dewantara

Mendididk adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagaiv anggota masyarakat dapat mencapai keselamata dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Dari beberapa pendapat di atas Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati (2003:70) menyimpulkan bahwa dalam hal pendidikan pada hakekat suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.

Jadi jelaslah bahwa pendidikan itu merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan direncanakan secara matang dengan tujuan membentuk suatu kepribadian yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak sadar menjadi sadar, dan dari buruk menjadi baik dan bahkan lebih baik.

Jenis pendidikan menurut tempat berlakunya menurut Ki Hajar Dewantara sebagaimana dipaparkan oleh oleh Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati (2003;96) dibedakan menjadi tiga, yakni: (1) pendidikan di dalam keluarga, (2) pendidikan di dalam sekolah, dan (3) pendidikan di dalam masyarakat.

Dalam tulisan ini marilah kita titik beratkan pada pendidikan poin kedua (pendidikan di dalam lingkungan sekolah) yakni pola pembentukan karakter dimulai dari lingkungan sekolah sebelum menghadapi kehidupan luar lainnya, seperti lingkungan masyarakat, lingkungan hidup beragam, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini dikemukakan bukan tidak berdasar tetapi dapat dilihat bahwa Dasar Konstitusional Pendidikan dan Undang-Undang dasar 1945 BAB XIII pasal 31 ayat 4 yakin Dasar Sosio-Budaya yang oleh Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati (2003:194-195) memaparkan, manusia Indonesia terbina oleh tata nilai tersebut. Oleh karena itu, sosial-budaya harus dijadikan dasar dalam proses pendidikan. Segi-segi sosial-budaya yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. Tata nilai warisan budaya bangsa yang menjadi falsafal hidup rakyatnya seperti nilai ketuhanan, kekeluargaan, musyawarah, mufakat, gotong-royong dan tenggang rasa (tepaselira).
  2. Nilai-nilai falsafah negaranya yakni pancasila.
  3. Nilai-nilai budaya dan tradisi bangsanya seperti bahasa nasional, adat-istiadat, unsur-unsur kesenian dan cita-cita yabg berkembang.
  4. Tata kelembagaan dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan, baik yang formal (paguyuban-paguyuban) maupun yang formal seperti kelembagaan Negera menurut Undang-Undang Dasar Negara.

2.      Karakter

Menurut Suyanto Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi cirri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Hal tersebut di atas dapat pula dilihat dari pendapat Sudrajat bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat.

Karakter adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, watak (KKBI,2003;682).

Dari beberapa pendapat di atas maka karakter dapat disimpulkan sebagai pancaran dari jati diri seseorang.

3.      Pendidikan Karakter

Guru bukan malaikat. Guru juga manusia, yang bisa malakukan kesalahan, yang bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma kbaikan, Namun demikian, menjadi seorang guru berarti harus siap menggurui. Kiranya kita perlu mengingat kembali pepatah lama “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Marilah kita terjemahkan pepatah ini dengan bijak. Bagaimana kalau kita maknai begini saja “sesuatu yang dilakukan oleh guru akan ditipu lebih oleh muridnya”. Misalnya, kalau seorang guru hanya bisa mencapai angka tiga (dalam sesuatu) maka murid akan memiliki nilai lebih dari tiga, bisa jadi tiga koma satu, tiga koma tujuh, empat, lima atau bahkan sepulu, dan seterusnya. Jadi seorang guru hendaknya berhati-hati dalam melakukan pembelajaran, jangan sampai ia kaliru atau bahkan salah dalam mengajari murid-muridnya.

Koeseoma (2009:117) mengatakan guru sebagai pelaku perubahan tidak lain adalah pemimpin (leader) perubahan bagi diri sendiri dan bagi orang lain sehingga mereka secara bersama-sama mampu membuat sebuah tatanan baru sesuai dengan cita-cita dan harapan mereka.

Guru sebaiknya mengenai perubahan sosial yang terjadi. Dengan demikian ai akan mengenai keinginan murid-murid yang sedang diasuhnya. Namun ia pun harus bisa membendung keinginan murid-muridnnya yang melenceng dari tujuan pembelajaran yang seharusnya.

Kita sering mendengar bahwa seseorang hidup dan berlaku untuk mencari jati diri. Sebelumnya  telah diungkapkan bahwa karakter adalah pancaran dari jati diri seseorang. Apakah benar demikian? Mari kita lihat indikator keberhasilan karakter yang diungkapkan oleh sudrajat sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP berikut ini.

–          Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;

–          Mamahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;

–          Menunjukkan sikap percaya diri;

–          Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;

–          Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;

–          Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;

–          Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;

–          Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;

–          Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;

–          Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;

–          Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;

–          Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan republic Indonesia;

–          Menghargai karya seni dan budaya nasional;

–          Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;

–          Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;

–          Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;

–          Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan dimasyarakat;

–          Menghargai adanya perbedaan pendapat;

–          Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek dan sederhana;

–           Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris sederhana;

–          Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;

–          Memiliki jiwa kewirausahaan.

4.      Pendidikan Karakter Bagi Anak dalam Kehidupan Berkepanjangan

Salah satu sifat manusia adalah lupa. Tidak ada manusia dimuka bumi ini yang tidak pernah melupakan sesuatu. Namun sifat ini harus selalu diasah agar tidak terbiasa dengan salah satu sifat buruk ini. Misalnya pelajaran yang telah diajarkan minggu ini kemudian diulang kembali tetapi pada minggu berikutnya tetap saja tidak diingat pelajaran itu. Ini bukan lupa tapi karena memang tidak ada usaha untuk mengingat-ingat pelajaran yang telah dilakukan. Salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan seperti ini adalah berusaha mengulang kembali pelajaran yang telah dilakukan ketika berada di luar lingkungan belajar namun tidak tidak mengabaikan hal penting lainnya.

Karakter seseorang tidak memiliki oleh orang lain. Tidak ada dua orang dengan segala yang ada pada diri mereka adalah sama. Dua orang kembar sekalipun. Oleh karena itu sifat ini adalah bawaan yang akan berkepanjangan dalam keberlansungan hidupnya.

Berikut akan di kemukakan prinsip-prinsip bagi pengembangan guru sebagai pendidik karakter: (1) menghidupi visi dan inspirasi pribadi, yakni prinsip pertama bagi pengembangan keberadaan guru sebagai pendidik karakter adalah kemampuannya dalam menghidupi visi dan inspirasi yang menjadi jiwa bagi kinerja propesional mereka; (2) nemo dat quod non habet, yakni tidak seorang pun memberikan apa yang tidak dimilikinya. Seorang guru bila kehabisan ilmu karena setiap saat mengeluarkan apa yang diketahuinya tanpa menerima yang baru maka akan kehabisan ilmu. Dengan demikian maka suasana pembelajaran akan membosankan sehingga guru harus selalu memperbaharui ilmu yang dimilikinya; (3) verba movent exempla trahunt, yakni guru menjadi agen pembawa nilai bukan terutama melalui kata-kata, melainkan melalui keteladanan; (4) kritis menera nilai, yakni melalui perilaku dan tindakannya, guru menegaskan dan merefleksikan nilai-nilai yang menjadi bagian hidupnya; (5) relasi interpersonal-intertekstual yakni proses penanaman nilai dalam sebuah pendidikan karakter tidak terjadi secara vertical sebagaimana diyakini kebanyakan orang selama ini, yaitu sebuah proses yang sifatnya searah dan guru menuju siswa melainkan pendidikan karakter berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai moral itu menjadi jiwa yang menghidupi komunitasnya; (6) integritas moral pendidik yakni status dan peranan guru yang begitu sentral di dalam masyarakat yang membuat berbagai macam kekuatan kekuasaan dan menyerobot masuk saling tarik menarik untuk menguasai dunia pendidikan( koesoema, 2009:137-152).

Setelah pendidikan di lingkungan keluarga, kiranya lingkungan sekolah dalam hal ini gurulah yang berperan penting dalam pembentukan karakter seorang murid/siswa. Guru adalah contoh. Oleh karena itu dia harus menjadi teladan. Dengan adanya prinsip-prinsip dasar tersebut, maka penerangan pendidikan karakter akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh guru dan orang tua murid.

C.    KESIMPULAN

Pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam kelangsungan hidup baik secara individu, kelompok, di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah, maupun dilingkungan masyarakat secara umum. Membentuk karakter tidaklah mudah namun hal ini janganlah dijadikan sebagai sebab melainkan harus dijadikan sebagai tantangan yang harus ditaklukan. Lebih lagi dalam menghadapi kebiasaan buruk yang dimiliki siswa. Untuk hal ini kiranya orang tua, guru, dan lingkungan dalam hal ini masyarakat secara umum harus bekerjasama demi terbentuknya karakter yang patut dicontoh oleh semua orang pada setiap diri seseorang.

D.    Rujukan

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2003. Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Akhmadsudrajat.wordpress.com/……/pendidikan-karakter-di-smp/

Koesoema, Doni.2009.Pendidikan Karakter.Jakarta:PT Grasindo.

 

About vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 14/07/2011, in Pendidikan Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: