POLA SINTAKSIS DAN POLA SEMANTIS DALAM WACANA

Karya : Vismaia S. Damaianti

Peran Wacana dalam Menumbuhkan Minat Baca

Pengkajian ini diilhami dan dipicu oleh berbagai isu yang bernadakan keresahan tentang permasalahan “minat baca” yang diajukan oleh para ahli dan pakar bahasa Indonesia. J.S. Badudu (Pikiran rakyat, Nov. 1991) berbicara secara panjang lebar tentang pentingnya mencari upaya-upaya untuk menarik minat baca masyarakat, terutama pelajar. Dijelaskannya bahwa kegemaran membaca itu harus ditumbuhkan sejak kanak-kanak. Kesukaan dan keinginan untuk membaca itu, menurut pemikirannya haruslah ditumbuhkan, sebab kebiasaan membaca itu tidaklah timbul begitu saja. Upaya menumbuhkan minat baca itu terutama merupakan tugas guru dan orang tua. Mereka harus menjadi teladan bagi anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan jasmani dan rohani.

Yus Rusyana (1984) mengungkapkan keprihatinannya tentang minat baca masyarakat yang masih sangat kurang, terutama minat terhadap karya sastra. Berdasarkan peneli­tiannya, jumlah siswa SMA di Jawa Barat yang pernah membaca karya sastra hanya 60%. Dari jumlah itu sebagian besar merupakan pembaca novel pop, sedangkan yang diharapkannya ialah peningkatan minat baca terhadap karangan sastra dan karangan ilmu pengetahuan.

Pakar lain dari ITB, Soedjoko (PR, Jan. 1987) mengemu­kakan pikirannya tentang masyarakat Indonesia yang tidak memiliki budaya baca. Menurut pengelihatannya, masyarakat Indonesia pada umumnya tidak suka membaca dan tidak merasakan bacaan itu sebagai suatu kebutuhan hidup. Dikata­kannya bahwa kebanyakan orang Indonesia, termasuk para pelajar, mahasiswa, bahkan dosen bersikap acuh tak acuh terhadap kegiatan membaca. Kenyataan ini sangat mencemaskan.

Masalah minat baca itu ternyata tidak hanya menggejala di negara-negara berkembang. Dalam berbagai terbitan Inter­national Reading Association (IRA) di Amerika Serikat pun masalah minat baca itu masih selalu dijadikan topik pembahasan yang cukup mustahak. Dalam majalah-majalah Reading Today, Journal of Reading, The Reading Teacher, dan Reading Research Quarterly, misalnya, para pembaca masih dapat menemukan berbagai uraian tentang masalah minat baca di negara yang sudah sangat maju itu dengan cara yang tidak terlalu sulit.

Kepedulian terhadap minat baca itu tampaknya bersumber pada kepedulian akan hal yang lebih dalam dan penting yang sudah lama hidup dan berakar dalam dunia kependidikan. Sudah sejak lama para pakar dalam bidang kependidikan membuat berbagai pernyataan yang mengesankan tentang fungsi membaca. Lebih dari setengah abad yang lalu, seorang pakar utama dalam bidang kependidikan, Adler (1940) berkata, “reading is a basic tool in the living of a good life … Reading, I repeat, is a basic tool.” Berdasarkan pendapat Adler itu seseorang yang mempunyai keinginan untuk berkehidupan layak haruslah berupaya untuk menjadikan membaca sebagai senjata utamanya. Tanpa kemampuan membaca yang layak, orang tidak akan mengenyam kehidupan yang tenteram dan berbahagia.

Roger Farr (1980), seorang peneliti yang kenamaan dalam bidang kependidikan membuat pernyataan yang sering dirujuk dan dikutip orang, yang berbunyi, Reading is the heart of education. Baginya tidak ada pendidikan tanpa kegiatan membaca. Keberhasilan dalam bidang pendidikan itu sangat bergantung pada keberhasilan dalam bidang membaca. Transfer dan transformasi informasi dari generasi ke genera­si itu terutama berlangsung dalam bentuk membaca, baik membaca karya sastra maupun karya tulis keagamaan, filsafat, ataupun karya ilmiah.

Mantan ketua International Reading Association (IRA), Leo Fay (1980), memperoleh inspirasi dari seorang pegawai UNESCO yang memperkenalkannya pada wahyu pertama dalam Al-Qur’an. Rupa-rupanya, Leo Fay sangat terkesan oleh kandungan ayat itu, sehingga sekembalinya dari UNESCO di Paris itu, di depan teman-teman seprofesinya, dia membuat pernyataan yang sangat indah yang berbunyi, “To read is to possess a power for transcending whatever physical power human can muster.” Bagi Fay, ternyata kemampuan membaca itu merupakan tenaga yang amat dahsyat. Berkat kegigihannya pula yang didukung oleh kerja keras teman-temannya, IRA mampu mengembangkan sayapnya ke seluruh pelosok dunia.

Dua tahun setelah Leo Fay mengumandangkan pernyataan­nya, Hartoonian (1982), seorang pakar politik Amerika, menyerukan pernyataan yang sering dirasakan sangat sensa­sional, namun mendorong masyarakatnya untuk mempunyai kemampuan membaca yang tinggi. Dia berkata, “If we want to be a super power we must have individuals with higher levels of literacy”. Apakah kedudukan Amerika sebagai negara adi­daya sekarang ini bersumber pada kemampuan membaca masyara­katnya? Sangat boleh jadi!

Berbagai pernyataan di atas itu ternyata mudah menda­pat dukungan dari pihak-pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan membaca. Di Indonesia, kesadaran terha­dap fungsi membaca itu makin tampak setelah Presiden Repub­lik Indonesia dalam pidatonya beberapa tahun yang lalu menjelaskan betapa pentingnya kemampuan membaca itu dalam pembangunan bangsa dan negara.

Dalam upaya meningkatkan minat baca, J.S. Badudu (1991) membuat pernyataan yang sangat penting dan perlu dicamkan. Dikatakannya bahwa yang patut diperhatikan juga dalam bercerita kepada anak ialah bahasa yang dipakai dalam bercerita itu. Para orang tua yang mempunyai kebiasaan bercerita kepada anak-anaknya sebelum tidur haruslah menggu­nakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Bahasa yang digunakan dalam bercerita itu haruslah sederhana, tetapi harus baik dan benar pula. Orang tua tidaklah selayaknya menggunakan dialek dalam berceritanya itu. Bahasa baik akan terpola dalam otak anak sehingga ketika mereka menggunakan bahasa dikala kemampuannya bertambah maka bahasa yang sudah terpola itu akan naik dari bawah sadarnya ke permukaan kegiatan berbahasanya sehari-hari.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pentingnya membaca itu, sesungguhnya tidaklah merupakan hal yang baru, sebab mereka sudah sangat akrab dengan perintah membaca yang tercantum dalam kitab suci mereka. Dengan turunnya ayat suci pertama yang memerintah manusia untuk membaca itu, jelaslah bagi mereka betapa pentingnya fungsi membaca itu. Tuhan tidaklah akan menempatkan perintah membaca itu pada bagian awal untaian wahyu-Nya jika kemampuan membaca itu tidak mempunyai makna yang sangat luar biasa. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan minat dan kemampuan membaca di Indonesia sesungguhnya tidak perlu mengalami hambatan yang berarti.

Berdasarkan pendapat para pakar yang tertera di atas itu, dapatlah dibuat suatu simpulan bahwa “kemampuan membaca yang layak” merupakan suatu conditio sine quanon dalam dunia pendidikan. Masalah minat baca perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh karena dengan adanya minat baca yang tinggi, intensitas membaca pun meningkat secara sinambung. Orang yang mempunyai minat baca yang tinggi akan membaca lebih banyak dan lebih intensif. Intensitas membaca itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya meningkat­kan kemampuan membaca lebih banyak dan lebih intensif. Penelitian yang dilakukan oleh Yap (1978) membuktikan intensitas membaca itu memberikan kontribusi sebesar 65% terhadap kemampuan membaca sedangkan IQ hanya memberikan, sumbangan sebesar 25%. Hal itu berarti bahwa guru yang mempunyai keinginan agar para siswanya memiliki kemampuan membaca yang baik, haruslah berupaya agar anak didiknya itu terus menerus meningkatkan intensitas.membacanya. Sangat tepat apabila dalam setiap kegiatan pendidikan, para guru memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk berlatih terampil membaca secara intensif.

Menurut Karl Bruner (1983), tujuan akhir setiap kegi­atan pendidikan itu berhubungan dengan tiga masalah utama, ialah transfer of training and transfer of principles and attitudes. Transfer yang pertama berhubungan dengan masalah pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki anak didik. Transfer yang kedua berhubungan dengan masalah penguasaan beberapa prinsip dan pemilikan sikap positif anak didik sehingga dia memiliki minat untuk mengembangkan pengetahuan dan ketiga keterampilan (termasuk keterampilan membaca) yang dimilikinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan akhir pendidikan itu sebenarnya berhubungan dengan masalah penge­tahuan, keterampilan, dan sikap. Ketiga masalah tersebut dapat diupayakan ke arah perbaikan dengan pengembangan kompetensi berbahasa melalui bacaan.

Manusia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung pada bahasa sebagai sarana komunikasi dan interaksi. Dengan bahasa, manusia memberi dan memperoleh informasi untuk mempertahankan keberadaannya. Fishman (1988) menyatakan pendapatnya bahwa bahasa merupakan 1) acuan untuk mendapat­kan kepercayaan atau kebencian; 2) indikator status sosial dalam hubungan antarindividu; 3) tanda tentang situasi dan pokok permasalahan; 4) pernyataan tentang tujuan-tujuan dari kehidupan sosial; dan 5) pengusung nilai-nilai dari interak­si yang merupakan ciri komunikasi.

Hakikat bahasa dalam komunikasi merupakan pengembang kekuatan manusiawi. Bahasa juga merupakan perlambangan ide atau pengalaman yang abstrak sehingga manusia dapat membi­carakan hal-hal masa lampau dan dapat memprakirakan sesuatu yang belum pernah dialaminya. Selain itu, hakikat bahasa adalah manasuka. Artinya, manusia dapat membuat konvensi-konvensi bahasa dengan bebas sehingga ia dapat menyampaikan informasi tentang apa yang dipikirkan atau yang dirasakan­nya (Frank B. May, 1982: 19).

Bahasa ternyata sangat penting untuk terwujudnya komunikasi manusia; karenanya bahasa memerlukan perhatian yang utama. Pemuda Indonesia, sejak dini menyadari akan keutamaan bahasanya. Bahasa Indonesia memegang fungsi dan kedudukan yang penting di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini tampak dari kesepakatan bersama para pemuda Indonesia tentang fungsi dan kedudukan bahasa Indo­nesia, yaitu: (1) sebagai bahasa nasional yakni lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, dan alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda daerah serta budayanya; (2) sebagai bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan; (3) sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional; dan (4) sebagai pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi (Depdikbud, 1981:17).

Fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia tersebut mem­perlihatkan pentingnya peran bahasa dalam kegiatan berkomu­nikasi, yaitu dalam berhubungan dengan sesama anggota masya­rakat Indonesia. Dengan berbahasa Indonesia, semua suku yang latar belakang bahasanya berbeda, dapat berkomunikasi dengan lancar. Selain itu, bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai satu-satunya bahasa pengantar bagi dunia pendidikan dan pengetahuan, segala informasi yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan dan pengetahuan tersebut dapat segera disampaikan.

Fungsi dan kedudukan tersebut menyiratkan peran bahasa Indonesia dalam kegiatan berkomunikasi oleh para pemakainya. Komunikasi yang diharapkan para pemakai bahasa Indonesia adalah komunikasi yang dapat menyalurkan informasi-informasi yang berguna untuk setiap kegiatan berbangsa dan bernegara.

Keberadaan “era informasi” menuntut masyarakat negara berkembang, seperti Indonesia, turut aktif menyerap informa­si demi peningkatan kemampuan dan ketahanan nasional. Soediatmoko (1980) memberikan tanggapan mengenai hal ini bahwa kesanggupan meningkatkan kemampuan nasional Indonesia di berbagai bidang yang baru tidak hanya bergan­tung pada sistem pendidikan kemampuan meningkatkan mutu dan relevansinya, tetapi juga bergantung pada apa yang dinamakan “kemampuan belajar suatu bangsa”. Adapun kemampuan belajar suatu bangsa, selain bergantung pada motivasi dan kesem­patan juga bergantung pada kemampuan mengolah informasi.

Informasi dapat disampaikan lewat berbagai jenis media, baik media elektronik maupun media cetak. Di antara media informasi tersebut, media cetak merupakan media infor­masi yang memiliki kelebihan tersendiri. Dengan membaca media cetak, orang tidak berhenti pada usaha penerimaan informasi, tetapi lebih jauh melibatkan suatu kegiatan mental. Ketika membaca, orang mengembangkan konsep-konsep dasar yang telah dimilikinya dengan informasi baru dari hal-hal yang dibacanya. Pendapat tersebut sesuai dengan definisi membaca yang dikemukakan oleh Hariasujana (1987:37), yakni membaca merupakan komunikasi interaktif yang meliputi latar belakang pengalaman, bahasa, dan suatu sistem gagasan-gagasan.

Dalam sistem pengajaran, guru dapat menggunakan media cetak. Selain sebagai bahan pengajaran, media cetak juga berfungsi sebagai penyampai informasi. Pemahaman informasi dalam bentuk media cetak selain menuntut siswa pandai memba­ca juga menuntut siswa memiliki minat baca. Minat baca mempunyai peran utama dalam seluruh kegiatan dan proses membaca. Semakin tinggi minat baca siswa, semakin meningkat pula intensitas membacanya. Oleh karena itu, peningkatan dan pembinaan minat baca merupakan upaya yang sangat pen­ting.

Minat baca yang tumbuh pada siswa bergantung pada berbagai faktor. Salah satu di antaranya ialah faktor wacananya. Wacana yang baik ialah wacana yang cocok dengan pembacanya. Wacana yang baik harus mempunyai tingkat keter­pahaman yang tinggi. Yang dimaksud dengan keterpahaman ialah kesesuaian antara pembaca dan materi yang dibacanya (Rusyana, 1984: 213). Semua karya tulis, harus memenuhi kriteria keterpahaman, jika penulisnya berkeinginan agar karya tulisnya itu dibaca orang.

Dilihat dari ragam bahasa yang bertautan dengan fungsi pemakaiannya, wacana dibedakan atas wacana sastra dan wacana ilmiah (Moeliono, 1993:4). Dengan kedua jenis wacana tersebut, masalah transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap dapat dilakukan. Selain itu, pengembangan kebudayaan dan peningkatan ilmu pengetahuan serta teknologi, seperti yang terungkap dalam fungsi bahasa Indonesia dapat diupaya­kan.

Wacana sastra yang digunakan dalam pengajaran sastra mempunyai arti strategis di dalam mentransfer pengetahuan, pengembangan keterampilan, dan sikap positif yang terjadi pada pembacanya. Dengan berperannya ketiga faktor tersebut, pembaca akan memiliki daya apresiasi yang diharapkan. Ini berarti bahwa para pendidik dan peminat sastra dituntut untuk mempunyai kepedulian terhadap ketiga faktor itu.

Dalam salah satu genre sastra dikenal istilah cerita fiksi yang pada dasarnya sama dengan istilah prosa fiksi ataupun narasi yang berplot/plotted narative (Aminuddin, dalam Depdikbud, 1985:274). Cerita fiksi diciptakan melalui daya imajinatif pengarang dan mengacu pada perilaku kehi­dupan manusia atau sesuatu yang dimanusiakan. Pengangkatan perilaku manusia atau sesuatu yang dimanusiakan dalam karya fiksi akan terwujud dalam bentuk dialog, lakuan, serta komentar ataupun penjelasan dan gambaran yang diberikan oleh pengarangnya sehingga terjadilah suatu cerita tentang manusia dan kemanusiaan dan cerita tentang hidup dan kehi­dupan. Dengan kata lain, cerita fiksi itu mampu memper­kaya pengetahuan kepada pembacanya tentang kehidupan suatu masyarakat atau kehidupan penulis karya itu sendiri.

Secara lebih khusus lagi, karya sastra, terutama cerita fiksi, mampu mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Dalam hal ini, Cullinan (1974) memperoleh bukti bahwa sastra memang dapat memperluas kemampuan berbahasa sehingga dia menganjurkan upaya untuk memperkenalkan anak dengan sastra sedini mungkin (dalam Sarumpaet, 1988:3). Di sisi lain, Cohen (1968) telah membuktikan adanya pengaruh sastra terhadap kosa kata dan kemampuan membaca. Jika demikian halnya maka jelaslah bahwa minat baca yang rendah atau sikap yang nega­tif terhadap karya sastra sangat merugikan perkembangan bahasa seseorang.

Secara lebih rinci Aminuddin (1985) menjelaskan pen­tingnya sumbangan karya sastra terhadap perkembangan anak didik karena:

  1. dengan membaca karya fiksi, anak didik belajar memahami bentuk kata, makna kata, dan berusaha mengidentifikasi bagaimana hubungan antara kata yang satu dengan kata lainnya dalam kalimat;
  2. dengan membaca karya sastra fiksi, anak didik belajar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka sehu­bungan dengan keberadaan bahasa sebagai alat komunikasi; dan
  3. dengan membaca karya fiksi, anak didik belajar mengem­bangkan daya imajinasinya dalam menghubungkan makna yang dikandung dengan realitas yang diacunya.

Uraian di atas dapat memberikan pengertian bahwa karya sastra yang dapat dinikmati dengan rasa suka dan gembira sangat tepat untuk dijadikan media dalam upaya memberikan contoh pemakaian bahasa yang tepat. Sayangnya, minat baca terhadap karangan sastra masih jauh dari memadai. Mengingat karya sastra itu demikian pentingnya bagi perkembangan kehidupan pembaca, khususnya bagi perkembangan bahasa maka kita perlu berupaya agar karya sastra diminati oleh pembaca.

Wacana sastra merupakan media strategis dalam pengem­bangan pengetahuan, begitu pula dengan wacana ilmiah. Wacana ilmiah merupakan media yang sangat penting di dalam penyam­paian informasi-informasi pengetahuan dan teknologi. Wacana berbahasa Indonesia harus mampu berfungsi sebagai pencerdas bangsa. Wacana berbahasa Indonesia ragam ilmiah harus dapat melayani dan mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rifai (1993) dalam penelitiannya membuktikan adanya kesejajaran dan kesalingtergantungan antara laju rekayasa dan pencendikiaan bahasa Indonesia dengan upaya pengembangan ilmu dan teknologi yang dilakukan masyarakat Indonesia selama ini.

Wacana ilmiah merupakan media komunikasi antarilmu dan antarpeminat ilmu pengetahuan. Dengan adanya alat komunikasi ilmiah berupa wacana ilmiah, maka akan terjadi dialog antara penghasil dan peminat ilmu pengetahuan yang akan saling memberikan masukan. Dengan demikian, hasil dari dialog tersebut merupakan bagian peningkatan mutu ilmu penge­tahuan pada saat sekarang dan masa mendatang.

Respons terhadap wacana ilmiah diharapkan seragam sehingga pola-pola kalimatnya cenderung dibuat secara kon­vensional. Tidak mengherankan jika wacana ilmiah dianggap membosankan dan tidak diminati pembacanya.

Siswa dan pembaca pada umumnya tidak boleh ditugasi untuk membaca materi yang tingkat keterpahamannya ada di atas kemampuan membacanya. Bacaan yang sulit akan menim­bulkan frustrasi dan jika frustrasi itu terjadi secara berulang-ulang akan timbullah kemungkinan terbentuknya sikap negatif dan menumpulnya minat terhadap bacaan. Itulah sebab­nya Flesch (1980) memberikan tekanan terhadap perlunya seorang penulis memperhatikan kriteria keterbacaan. Selain berharap agar tulisannya dibaca orang, penulis yang bijaksa­na merasakan pula adanya tuntutan untuk menghindarkan terja­dinya penumpulan minat baca dan sikap yang negatif terhadap bahan bacaan. Dengan kata lain, penulis pun harus memberikan kesempatan kepada khalayak untuk membaca.

Di samping terilhami dan terpicu oleh berbagai isu tentang minat baca, penulis termotivasi juga oleh hipotesis Robinson (1989) yang sangat gayut dengan isu-isu tersebut. Dia berkata, When the semantic and syntactic structure of the message matches the syntactic and semantic knowledge of the reader, comprehension is rapid. Selanjutnya dia menyata­kan pendapatnya, As the distance between the reader’s ex­periential, emotional and linguistic background and that of the writer increases, comprehension slows down and becomes difficult.

Masalah Pola-pola Sintaktis dan Semantis

Di awal telah dijelaskan adanya masalah minat baca yang rendah terhadap wacana sastra dan wacana ilmiah. Oleh karenanya, tidak banyak orang yang bisa memperoleh dan menik­mati manfaat kandungan karya sastra dan karya ilmiah dengan baik.

Sarumpaet (1988) melihat suatu manfaat karya sastra itu dari sudut keterampilan berbahasa. Dikatakannya bahwa karya sastra dapat memberikan dorongan kreativitas berbaha­sa. Kalau hal ini dihubungkan dengan pendapat Badudu (1991) di awal, maka jelaslah bahwa karya sastra yang dimaksud ialah karya sastra yang menggunakan bahasa yang baik. Kepada para orang tua Badudu menghimbau untuk menggunakan bahasa yang baik pada waktu bercerita kepada anak sebelum tidur. Perkiraan Sarumpaet pun mungkin sekali dapat menjadi kenya­taan, jika karya sastra yang dibaca anak menggunakan bahasa yang baik.

Orang hanya akan tertarik untuk membaca karya sastra yang bisa dipahaminya dengan mudah. Agar dapat dibaca dengan mudah, karya sastra itu harus memenuhi berbagai kriteria keterpahaman/keterbacaan. Kriteria keterpahaman karya sastra itu terutama berkaitan dengan masalah sintaktis dan seman­tis. Pemakaian bahasa yang baik akan bermanfaat juga bagi pengarang sastra sebab bahasa bagi pengarang sastra merupa­kan medium penciptaannya dan segala perbuatannya (Rusyana, 1988:299).

Telah dijelaskan pula tentang kecenderungan para penulis karya ilmiah yang memakai pola-pola kalimat dalam bahasa yang kaku. Hal ini dapat mengakibatkan kebosanan anak didik terhadap bacaan ilmiah. Agar wacana ilmiah mudah dibaca dan diminati, seperti halnya wacana sastra, wacana ilmiah pun harus memenuhi kriteria keterbacaan/keterpahaman. Bahasa wacana ilmiah yang disajikan kepada para siswa seko­lah dasar harus lebih mudah daripada bahasa wacana ilmiah yang hendak disajikan kepada para mahasiswa. Seperti yang dinyatakan dalam hasil penelitian Eisenberg (1977), struktur bahasa wacana ilmiah dan variasi kebahasaannya, termasuk struktur sintaktis dan semantisnya mempunyai dampak terhadap keterpahaman.

Dalam penelitian ini keterbacaan wacana-wacana terpi­lih hanya dikaji pada bidang sintaktis dan semantisnya, sesuai dengan hipotesis pemandu (guiding hyphotesis) Robinson yang tertera pada bagian awal tulisan ini. Menurut Robinson (1989), kalimat itu merupakan struktur linguistis yang terbesar yang dapat dideskripsikan secara sempurna, sedangkan kalimat-kalimat dalam suatu teks itu mempunyai hubungan sintaktis dan semantis, sehingga makna yang dikan­dungnya itu dapat dipahami dengan baik.

Dengan menggunakan hasil kajian bidang sintaktis dan semantis akan dapat dibuat deskripsi tentang pola-pola sintaktis dan semantis yang digunakan dalam karya sastra dan karya ilmiah dengan baik. Dari hasil analisis pola-pola sintaktis dan semantis itu dapat dilihat, dihitung, dan diperbandingkan jumlah pemakaian pola-pola kalimat dan unsur-unsur semantis yang ada di dalamnya. Dengan demikian, kecenderungan pemakaiannya dan makna yang dikandungnya dapat dipahami secara baik.

About vismaia

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Posted on 14/07/2011, in Linguistik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: